Ahlan wa Sahlan wahai Almuni Ramadhan!!!!

Telah lahir pahlawan-pahlawan baru!
Lahirnya lebih menggemparkan dari bayi-bayi paus raksasa,
atau mobil-mobil high tech keluaran terbaru.

Setelah sebulan mereka menyepikan diri,
“bertapa” merengkuh kekuatan dari Penciptanya.
Maka kini mereka siap untuk turun ke bumi lagi.
Meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.
Merampungkan apa yang tengah dirintis dan segera diselesaikan.
Meneruskan perjuangan membawa obor kemenangan,
menuju garis finish kefutuhan.

Pahlawan itu turun dari langit kesucian,
membawa nurani yang berlimpah untuk hidup bersama dunia.
Pahlawan-pahlawan itu membawa kekuatan dan kewibawaan
untuk melanjutkan peperangan melawan kebathilan.

Lebih hebat dari Naruto yang mengeluarkan kekuatan nine tailsnya.
Lebih dahsyat dari Goku yang menjadi super saiyan 3.
Lebih nyata dari Avataar Aang yang mengusai 4 elemen bumi.

Kini jundi – jundi itu telah semakin kuat!
Tidak bisa diremehkan seperti dulu mereka diremehkan.
Tidak bisa lagi ditertawakan, seperti dulu mereka ditertawakan.
Ada idealisme yang menyala di mata mereka.
Ada panji yang senantiasa dijunjung dimanapun mereka berada.
Ada cahaya yang bersinar dari akhlak-akhlak mulia mereka.
Ada keteduhan dan kejernihan yang terpancar dari wajah mereka.
Ada amal dan jihad yang mengalir dari tangan-tangan mereka.
Ada harapan bergantung di atas pundak mereka.
Ada Al-Qur’an di dalam jiwa mereka.

Mereka memang bukan super hero.
Tetapi, mereka yang akan memperlihatkan pada kita
bahwa manusia yang paripurna itu memanglah ada.
Dan, setelah 30 hari inkubasi ramadhan menggodok segala sisi kekuatan sang pahlawan,
kini tibalah saatnya mereka menunjukkan taring-taringnya.

Ahlan wa Sahlan wahai Alumni Ramadhan!!!!

MP3 murattal Thaha Al-Junayd & Jadwal Imsakiyah

ertemuan dengan Ramadhan hanya tinggal hitungan hari saja.. biasakan telinga dan hati kita dengan lantunan Qur’an setiap waktu.

MP3 murattal Thaha Al-Junayd surat

092.mp3 – Al-Lail

http://www.ziddu.com/download/5970601/092.mp3.html

091.mp3 – Asy-Syams

http://www.ziddu.com/download/5970600/091.mp3.html

093.mp3 – Ad-duha

http://www.ziddu.com/download/5970599/093.mp3.html

090.mp3 – Al-Balad

http://www.ziddu.com/download/5965188/090.mp3.html

089.mp3 – Al-Fajr

http://www.ziddu.com/download/5964931/089.mp3.html

088.mp3 – Al-Ghasiyah

http://www.ziddu.com/download/5964888/088.mp3.html

087.mp3 – Al-A’la

http://www.ziddu.com/download/5964852/087.mp3.html

Mau tahu jadwal imsakiyah di kota anda? klik aja link dari PKPU berikut ini…

http://www.pkpu.or.id/imsyak/

kamu mau tau Ramadhan kamu Gagal atau sukses??? maka 19 point di bawah ini jangan sampe terjadi sama kamu

ramadhan-mubarak
Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini cara-cara menghindarkan diri dari gagal dalam Ramadhan:

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Syaban.
Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat
tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Syaban, sebagaimana
telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Dalam
hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata,“Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di
bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa
selain di bulan Syaban.”

2. Gampang mengulur shalat fardhu.
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak
mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan
beramal shalih.” (Maryam: 59)

Menurut Said bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat
(meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada
waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar,
ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya
menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit
matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu
shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan
diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan
ciri orang yang shalih.
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam
mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami
dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu
kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)
“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah
sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.
Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah
tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu
mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda,
karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta
gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa taala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Quran.
Ramadhan juga disebut Syahrul Quran, bulan yang di dalamnya
diturunkan Al-Quran. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan
waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Quran.
“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Quran.” (HR
Baihaqi)Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Quran sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.
Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat
bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang
kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”
Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila
salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan
jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau
mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.”(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, makaAllah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun,maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan
minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan
melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn
Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan
dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah
dan tutur kata yang sia-sia.”(Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal
memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya.
Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: “Bicara dulu baru
berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”

8. Memutuskan tali silaturrahim.
Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan
ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa
memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya” Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.
Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan,
diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada
atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.
Al-Quran mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang
menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.
Allah bertanya: ” Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?”
Mereka menjawab: “Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka
tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”
Allah berfirman: “Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja,
kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang mulia.”(Al-Muâ?Tminun: 112-116)

10. Labil dalam menjalani hidup.
Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam
menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah
telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di
dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak
diberikan kebajikan atasnya.” (HR Ahmad, Nasai, Baihaqi dari Abu
Hurairah)
Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya
tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.
Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat
taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat
ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan amar maruf nahiy
munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan
kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal
lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.
Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan
selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.
Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada
Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia)
tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang
bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal
Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjamaah.
Frekuensi shalat berjamaah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan.
Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap
kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai
hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjamaah, yang saling menguatkan.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya
dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan
yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4) Ramadhan seharusnya menguatkan
motivasi untuk hidup berjamaâ?Tah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.
Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan
Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama
makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan
itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah
dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari
mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.
Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara
kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya
mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Al-Hasyr: 18)

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.
Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik
menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir
merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata
Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang
sejati.
Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada
luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan,
akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan
Secara harfiah makna Idul Fitri berarti ari kembali ke fitrah.
Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari
dibebaskannya mereka dari penjara Ramadhan. Akibatnya, hanya
beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus
berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan
sebaliknya.

‘Egois’ di Ramadhan Mohon maaf jika j…

‘Egois’ di Ramadhan

- – - – - – - – – - – - – - – -

Mohon maaf jika judulnya profokatif, kurang berkenan atau terlalu menganggu hati.. hehe.. biasanya khan yang begitu-begitu akan mendapat perhatian khusus… piss… ^_^v

Saya hanya ingin mengeluarkan sedikit pendapat, yang tidak sepakat silahkan saja… saya pun siap menerima kritik.. selama itu membangun dan tidak menghina…

Egois (AKU)… maksud egois disini adalah bagaimana agar di bulan ramadhan, kita mencoba memaksimalkan seluruh ibadah khusus kepada ALLAH. Ya! Hanya ‘Aku dengan ALLAH’. Karena masa-masa seperti ini sangat jarang dan hanya setahun sekali… seluruh amal dilipatgandakan, seluruh perbuatan akan dibalas berkali-kali lipat… moment ramadhan sangat jarang… so.. mari maksimalkan ibadah secara efektif dan efisien… tempatkan ibadah pada posisi-nya… 11 bulan yang lain boleh-lah kita banyak2 untuk rapat, adakan event2, kajian, seminar, taklim, baksos, dll. But.. It’s RAMADHAN… setidaknya kita meminimalisir ‘ibadah-ibadah’ seperti itu… dan beralih kepada IBADAH yang sebenarnya… hanya ‘AKU dan ALLAH’ => Maksimalkan Tilawah Qur’an, Menjaga mulut, kurangi bicara, perbanyak sholat sunnah, tingkatkan sedekah, Dzikrullah, Itikaf, dan ibadah-ibadah ‘egois’ lainnya.

Tapi, saya juga tidak menyalahkan rekan-rekan yang ingin memaksimalkan ibadah dengan banyak santunan, baksos, acara-acara kegiatan, kepanitiaan ini dan itu, dsb…..

Mohon maaf jika banyak kesalahan…
SEMANGAT SAMBUT RAMADHAN!!!

Bacaan Waktu Berbuka Puasa

oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat
________________________________________
Di bawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang dzikir atau do’a di waktu berbuka puasa, kemudian akan saya terangkan satu persatu derajadnya sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan syah (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan. Kemudian saya iringi dengan tambahan keterangan tentang kelemahan beberapa hadits lemah tentang keutamaan puasa yang sering dibacakan di mimbar-mimbar khususnya di bulan Ramadhan.
HADITS PERTAMA
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).
(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).
Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif
Pertama :
Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.
1. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if
2. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)
3. Kata Imam Ibnu Hibban : pemalsu hadits
4. Kata Imam Dzahabi : di dituduh pemalsu hadits
5. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)
6. Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.
Kedua :
Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.
Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani, dll.
Periksalah kitab-kitab berikut :
1. Mizanul I’tidal 2/666
2. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami
3. Zaadul Ma’ad di kitab Shiam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim
4. Irwaul Gholil 4/36-39 oleh Muhaddist Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
HADITS KEDUA
Artinya :
“Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).
(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).
Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if
Pertama :
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.
1. Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
2. Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
3. Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
4. Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).
Kedua :
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
1. Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
2. Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
3. Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
4. Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadits ini ?
HADITS KETIGA
Artinya :
“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi SAW. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ‘Alaa Rizqika Aftartu.”
(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)
Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.
Pertama :
“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi SAW. (hadits Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi SAW, tanpa perantara shahabat).
Kedua :
“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.
HADITS KEEMPAT
Artinya :
“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).
(Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239) Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.!
Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berpandangan : Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.
KESIMPULAN
• Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh lagi diamalkan.
• Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja).

Ramadhan Bulan Sandiwara,,?

Bulan ramadhan akan mengunjungi kita hanya dalam hitungan hari. Begitu bahagianya kita sebagai seorang muslim menyambut bulan yang penuh dengan keberkahan, Maghfirah, dan pahala syurga. Sehingga tak heran ketika kita melihat banyak orang yang merubah penampilannya bahkan hingga 180 derajat. Yang dulunya pakaiannya vulgar alias terbuka pada saat memasuki bulan ramadhan mulai di tutup perlahan alias sedikit demi sedikit. Yang awalnya pergi kuliah selalu pakai kaos oblong, celana levis sobek, saat bulan ramadhan menjadi tampan dengan pakaian muslim, peci bahkan sedikit janggut. Semua itu merupakan tanda bahwa ummat ini senantiasa menyambut bulan yang penuh rahmat ini dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Di bulan yang indah ini juga banyak orang yang merubah perilakunya. Tadinya yang susah untuk bangun pagi, di bulan ramadhan mereka ”terpaksa” harus bangun pagi bahkan pagi buta agar tidak kelelahan saat puasa. Kemudian ada juga orang yang kalau hari biasa shalatnya masih bolong-bolong, entah ada hawa apa, di ramadhan dia begitu giat bahkan sering menjadi muazin dan selalu shalat berjamaah. Tak salah pula kalau kita katakan bulan ramadhan adalah bulan hidayah. Karena dengan izin Allah banyak orang yang kembali ke Jalan-Nya.

Tapi saya selalu berdoa semoga berbagai contoh di atas itu bukan hanya terjadi di bulan ramadhan—walaupun realitas mengatakan seperti itu—agar islam itu begitu terasa di setiap bagian kehidupan ini, tidak hanya di bulan ramadhan. Mereka melakukan aktivitas ruhani di bulan ramadhan begitu selesai masuk syawal, maaf-maafan, makan-makan, baju baru, dan mereka benar-benar selesai dengan bulan ramadhan sampai luntur apa yang dia rasakan di bulan kebaikan ini. Inilah yang disebut sinetron. Akting. ”Mengelabui” Tuhan. Apa sebenarnya yang salah?

Sedikit syair dari seorang Muslim—semoga Allah memberinya Rahmat—yang menggambarkan realitas di atas, yang sungguh membuat saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung, Allah SWT. Agar dihindari dari hal seperti itu, agar mendapatkan ramadhan terbaik. Dan islam yang sempurna yang tidak hanya ada di bulan ramadhan tapi terus berkelanjutan bahkan samapai ketemu ramadhan lagi.

Sandiwara Ramadhan

Semuanya kawan-kawan yang tercinta
Ayo siap kita bermain sandiwara
Siapkan kerudungnya dan jilbabnya
Kali ini kita tutup aurat kita

Siapkan sorban-sorban dan pecinya
Marilah hormati agama kita
Wahai Tuhan Yang Maha Suci
Terimalah pakaian kami

Apabila bulan Ramadhan
Telah datang
Agama jadi laris bukan buatan
Siapkan lambang-lambang dan kostumnya
Kenakanlah semua di depan kamera

Yang penting penampilan dan aktingnya
Yang penting warna-warni dan gayanya
Wahai Tuhan Yang Maha Suci
Terimalah pakaian kami

Semoga ramadhan yang akan datang ini tidak menjadi ramadhan terakhir bagi kita, tidak menjadi ramadhan terburuk bagi kita tetapi menjadi ramadhan yang terbaik dan berkelanjutan hingga Allah berkenan untuk mempertemukan kita dengan ramadhan selanjutnya. Begitu seterusnya. Kalaupun ini ramadhan terakhir buat kita—wallahu a’lam—bisa kita jadikan ajang pertaubatan dan kembali kepada fitrahNya. Wallahu A’lam bi Showwab