Sulitnya cari orang amanah zaman sekarang

Sabtu, 5 Desember, 2009 02:52
Dari:
“fitri laily” akhwatpisan@yahoo.com
“pembacaasmanadia” <pembacaasmanadia@yahoogroups.com>
 

Mencari orang amanah zaman sekarang???

 

Teringat pembicaraan ke suami subuh tadi, perihal pembagian
daging kurban di tempatku bekerja.

Mirisnya hati ini melihat betapa banyaknya yang sudah dzolim
ke saudaranya sendiri demi daging 1kg.

Setauku perusahaan tempatku bekerja, tahun ini berkurban
1ekor sapi dan 7ekor kambing. Tapi…tidak semua karyawan kebagian. Dengan alasan
panitia ‘daging kurban hanya dibagikan bagi yang sudah berumah tangga saja’.

Tapi menurut ketua panitia, tidak ada peraturan seperti itu.
(setelah dikroscek kemarin)

“Malah banyak yang ngambil dobel jatah dagingnya teh…”.ucap
salah sorang kawan.

Kasihan….

Hanya demi 1kg daging tega mendzolimi saudaranya. Membiarkan
saudaranya berandai-andai (berharap) hari itu bisa makan daging.

Dimanakah amanah kalian wahai para panitia kurban??

Dimanakah hati kalian yang telah tega mendzolimi saudaranya
demi 1kg daging??

 

Semoga Allah SWT mengampuni dosa kalian dan mudah-mudahan
Allah SWT membukakan pintu rejeki yang lebar bagi kalian.

Amiin…

 

 

Rumah Cinta, 30 November 2009

Pukul 10.15 pagi

Masih kesel dengan kejadian itu sembari ditemani sepiring
indomie goreng.

Wuiiihh…mak nyuss.hehehehe

Wilders Sedang Memproduksi Film Pelecehan Islam Yang Kedua

Wilders Sedang Memproduksi Film Pelecehan Islam Yang Kedua
 
Anggota Parlemen Belanda yang terkenal ekstrim, Geert Wilders mengumumkan bahwa saat ini ia sedang memproduksi film baru tentang Islam. Film barunya ini merupakan penyempurnaan atas film “Fitnah” yang isinya pelecehan terhadap al-Qur’an sehingga menimbulkan reaksi dan kemarahan setelah dipublikasikannya film tersebut pada tahun lalu.
Dalam keterangannya kepada surat kabar Inggris “Telegraph”, Wilders mengatakan: “Film yang baru, yang produksinya akan selesai tahun depan akan mencerminkan sejauh mana fenomena kemajuan Islam di Barat”.
Dia menambahkan: “Akan ada film versi baru dari film ‘Fitnah’, tetapi berupa periode perkembangan”. Dikatakan bahwa dia ingin memperlihatkan melalui film tersebut akibat migrasi besar-besaran dari negara-negara Islam ke Eropa.
Menurut Wilders: “Film yang baru akan berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan kebebasan berbicara dan mengkritisi aturan Islam yang sangat ketat”. Dan tidak sedikit para produser film profesional di New York dan Hollywood yang menawarkan bantuan kepadanya, namun mereka menolak untuk menyebutkan namanya.
Mengikuti jejak film “Fitnah” yang dipublikasikan pada bulan Maret 2008 di beberapa situs-situs internet, yang isinya berupa pelecehan oleh Anggota Parlemen Belanda terhadap al-Qur’an al-Karim. Tidak ayal film itu telah mengundang banyak kecaman dari Uni Eropa, Organisasi Konferensi Islam, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan negara-negara Islam. Film itu dinilainya sebagai sumber kebencian, dan satu bentuk diskriminasi terhadap umat Islam.
Hal ini juga menyulut dilakukannya berbagai macam demonstrasi di beberapa kota dan pemerintahan Islam. Akibatnya pemerintahan Belanda menghadapi banyak serangan diplomasi, sehingga memaksanya untuk menarik diri dari film dan pendapat yang diadopsi oleh Wilders yang menyerang dan melecehkan Islam, dan dari pendapatnya yang menghubungkan agama Islam dengan kekerasan.
Dan pada tanggal 21 Januari tahun ini Pengadilan Banding di Amsterdam memerintahkan Jaksa Penuntut Umum untuk memberikan tuntutan hukum terhadap Anggota Parlemen Belanda yang ekstrim ini. Pengadilan telah mendakwa Wilders membuat provokasi kebencian melalui berbagai pernyataannya yang menyakiti umat Islam dan juga melalui film “Fitnah”. Pernyataan-pernyata an yang dikemukakan oleh Anggota Parlemen sayap kanan dari partai kerakyatan ini dinilai sebagai bentuk memprovokasi kebencian, baik dalam hal isi maupun cara penyampaiannya.
Pengadilan berkata: “Sesungguhnya penyebaran kebencian dalam sistem demokrasi merupakan perkara yang bahaya dan dilarang, sehingga perlu dibuat aturan yang jelas demi kepentingan publik”. Untuk itu keputusan yang dibuat oleh pengadilan itu merupakan hal biasa dalam mencari penyelesaian secara politik.
Jaksa Agung di ibu kota Yordania, Amman mengajukan lima dakwaan kepada Anggota Parlemen Belanda sayap kiri yang ektrim tersebut. Jaksa Agung juga telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Wilders melalui Polisi Internasional “Interpol”.
Begitu juga akibat dari film ini pihak berwenang Inggris mengambil keputusan untuk menolaknya masuk ke dalam wilayah Inggris pada bulan Februari lalu, dan pihak berwenang Inggris juga menolak memberinya visa masuk setelah dia tiba di bandara “Heathrow” karena pendapatnya yang rasisme terhadap Islam dan umat Islam, di samping juga filmnya yang melecehkan al-Qur’an.
Wilders menilai Inggris yang seharusnya membolehkan dia untuk memasuki negara, namun dengan alasan bahwa keberadaannya mungkin menimbulkan masalah keamanan sehingga menolaknya sebagai bentuk “kegilaan dan kepengecutan”. Menurutnya insiden ini merupakan hari yang menyedihkan terhadap kebebasan berekspresi di Uni Eropa.
Setelah dua minggu sejak keputusan yang melarangnya masuk wilayah Inggris, maka Anggota Kongres Amerika dari partai Republik sayap kanan mengundang Wilders untuk mengunjungi Amerika Serikat dalam rangka memperkenalkan filmnya “Fitnah” yang isinya melecehkan Islam itu.Dikatakan bahwa Wilders akan mengambil bagian dalam konferensi anti Islam di negara bagian Florida. Konferensi yang akan diselenggarakan oleh organisasi “Dewan Keamanan Florida” ini mengambil tema “Kebebasan berekspresi”. Iklan tentang konferensi itu telah disebarkan di internet. Dalam iklan itu dipasang foto Anggota Parlemen Belanda di samping slogan yang berbunyi: “Dilarang masuk London …. Diadili di Belanda …. Divonis di Yordania …. Dan disambut di Florida”. (mb/akhbaralalam. net)

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah

Dari milis tetangga

Mohon maaf jika postingan ini kurang berkenan, semoga bisa menambah wawasan.

“Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah”

Oleh: Adian Husaini

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009
lalu. Dari
empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang
Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar
tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia
ini mempertanyakan: Mengapa
Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati
Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak
ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong
tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan
merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut.
Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali
dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya
pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr.
Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik
‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul
“Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan
ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih
Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang
Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun
kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W.
Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja
juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan
sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita
yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul
Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We
Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu
tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia
(Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal,
papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah
Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif
mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia
menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa
pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah
lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan
Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk
menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh
monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah
memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat
memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We
Tenriolle. Wanita
ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir
dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah
Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo,
yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu
dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini
mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama
yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran
Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan
kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk
ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di
Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami
istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia
Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan,
Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga
bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian
menjadi semacam sponsor
bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri
ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu
pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang
wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita
Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern,
terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme
H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah
orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun
1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door
Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan
judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit
terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang:
Boeah Pikiran (1922).

Dua
tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain
mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan
sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite
Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana
ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada
orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat:
“Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri,
dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin
tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak
menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan,
percakapan-percakap an maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena
itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini
sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang
Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun
kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja
mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang
hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri
tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos
Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita
ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus
berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira
sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar
Bahtiar juga menyebut
sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi
Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke
Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja
dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan
Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana
dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi
Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum
wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan
Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di
Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang
sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal
Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi
jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia
tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau
Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih
jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini
dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya,
Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia
terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita
Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan
kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia,
Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh,
klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini
hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat
yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan
Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang
ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau
menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan
jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke
Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita
pertama, yakni Malahayati.

Jadi,
ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa
Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien?
Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa
Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien
tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan
berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki
visi keislaman yang tegas. “Perputaran
zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita
tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus
berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang
lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan
berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan
terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, ” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti
diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar,
penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar
bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan
Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis
Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam
dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah
lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda
untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan,
1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

“Kecenderungan
ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah
nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir
abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis
selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan
mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya
pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa
hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya
kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama
Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonial is Balanda itu
sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya
kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

“Salam,
Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan
penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu
dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya
kepada beliau tentang hal berikut: “Apakah dalam agama Islam juga ada
hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa
Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya
kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan
kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. ” (Lihat, buku Kartini:
Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah:
Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti
Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989),
<http://p.sj/> P.SJ.
Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam
upaya membantu penjajah Belanda untuk ‘menaklukkan Islam’. Mengikuti
jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para
Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri
sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar.
Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi
dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus
daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut
Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang
Snouck dalam ‘penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh
banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ‘ulama’. Bahkan ada yang
menyebutnya sebagai “Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya
“Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis
tentang Islam: “Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan
ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai
dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun
tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya. ” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche
zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat
kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik
Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr.
Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat
Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu
strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui
dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck,
lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari
pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan
mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis,
rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka.
Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui
asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam
perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi
kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai
pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan
adat. (hal. 43).

Aqib
Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan
Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh
misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi.
Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan
menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam)
melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah
strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat,
strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk
‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini
semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi
Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’
sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik
Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah
orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar,
bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama
tetap merasa telah berbuat kebaikan. [Depok, 20 April 2009/
<http://www.hidayatu llah.com/> www.hidayatullah. com]

Berita-berita Caleg Stress

1. Caleg SK di Dapil I Kabupaten Sumbawa
menarik kembali bantuan sebuah mesin genset yang di sumbangkannya ke
mesjid. Selain itu, ia juga menarik bantuan dana sebesar Rp 1 juta yang
disumbangkannya ke dua mushallah.
2. Caleg AH di Dapil I Kabupaten Sumbawa, sebelumnya
ia menyumbang 100 buah kursi plastik dan 25 zak semen ke sebuah MTS di
Kecamatan Labangka, Namun karena kecewa tidak meraih suara yang
diharapkan, AH menarik kembali kursi dan semen tersebut.
3. Oknum caleg di Kota Sumbawa Besar yang tidak
disebut nama dan parpolnya, meminta kembali uang sebesar Rp 20 ribu per
orang yang diberikan dengan target 50 hingga 60 suara. Namun di pemilu,
perolehan yang ada hanya ada saksi dan keluarga tim sukses.
4. Caleg nomor urut 9 dari Partai Golkar dari Kota
Bogor,Yuniar, melalui tim suksesnya berinisial SB, menarik kembali
ratusan buku tabungan masing-masing senilai Rp50.000 bertuliskan Karya
Nyata Sejahtera yang dibagikan saat kampanye di Kampung Muara, RW
11/14, Kelurahan Pasirjaya,Kecamatan Bogor Barat.Namun saat hasil suara
dihitung, dari jumlah DPT yang jumlahnya sekitar 900 suara,nama Yuniar
hanya memperoleh di bawah 10 suara di RW 11 dan 14.
5. Caleg Partai Golkar dari Daerah Pemilihan I Dumai
Timur Aswin memalui tim suksesnya mencabut kembali lima tiang listrik
yang telah dipasang untuk menyalurkan listrik kewarga setempat.
6. Caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota
Banjar, Jawa Barat, Srihayati, 23, ditemukan tewas gantung diri sekitar
pukul 07.30 WIB Selasa (14/4).Ibu muda yang mencalonkan diri untuk
daerah pemilihan (dapil) I Kota Banjar dengan nomor urut 8 itu
ditemukan tewas di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal RT01/01,
Desa Bangunjaya,Kecamata n Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.
7. Seorang calon legislatif (caleg) dari Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pahala Sianipar ditemukan tewas
di kediamannya, Senin (19/04) malam. Ia tewas bunuh diri akibat
menenggak obat pembasmi serangga di dalam kamarnya. Di kediamannya
Jalan Pintu Air, Kecamatan Medan Kota.
8. Tim Sukses (TS) Caleg pun bisa stres bahkan
mengakhiri hidupnya. Itu dibuktikan Muhammad Iqbal (28), TS seorang
Caleg yang kalah. Lelaki yang menetap di Jalan Eka Surya, Gang Pribadi,
Kelurahan Gedung Johor, Medan Johor ini nekat gantung diri di
kediamannya, Jumat (10/4). Iqbal adalah TS seorang Caleg untuk DPRD
Medan. Sejak dua bulan lalu dia aktif menjadi TS Caleg sebuah Parpol.
Karena kesibukan sebelum dan saat kampanye. Lelaki dengan pekerjaan
serabutan ini dikabarkan sering tak pulang ke rumah untuk ngurus
kemenangan Caleg jagoannya. Karena itu, dia acap bertengkar dengan
istrinya.
9. Lazuardi, seorang caleg DPRD Kota Pontianak,
Kalimantan Barat, meninggal Senin (13/4) malam lalu. Ia meninggal
beberapa jam setelah mengikuti penghitungan suara pemilu. Diduga caleg
dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini meninggal
karena terlalu lelah dan stres mengikuti rangkaian proses pemilu.
Ditambah perolehan suara tak cukup untuk menjadikannya legislator.
10. Sri Sumini, caleg dari Partai Demokrat di Solo,
Jawa Tengah, meninggal akibat serangan jantung dan lever pada hari
Minggu (12/4). Menurut keluarga, sejak masa kampanye hingga usai
pencontrengan sang caleg lebih pendiam dan terkesan menyimpan beban
pikiran.
11. Di Cirebon, sebanyak 15 orang caleg mengalami
depresi dan memilih melakukan pengobatan spiritual untuk menyembuhkan
depresi kepada Ustaz Ujang Bustomi di Desa Sinarancang, Mundu, Cirebon.
12. Seorang calon legislator daerah pemilihan
Tangerang, di perumahan elit Alam Sutera Kunciran, stres dan
marah-marah karena kalah dalam pemilu legislatif 9 April lalu.Sekitar
pukul 17.00 WIB (9/4) saat penghitungan suara dilakukan, seorang pria
(40) yang merupakan caleg dari partai tertentu, terlihat frustasi saat
mengatahui kalah dalam perolehan suara. Dia merangkak di pinggir jalan
dengan membawa-bawa cangkir sambil meminta-minta uang kepada orang yang
berlalu lalang, katanya kembalikan uang saya, kata caleg itu.
13. Salah seorang caleg Partai Penegak Demokrasi
Indonesia (PPDI) dari Bulukumba; Andi Langade Karaeng Mappangille
Minggu (12/4) bersama tim suksesnya nekat melakukan penutupan jalan
sepanjang 3 km. Tindakan tersebut diduga akibat perolehan suaranya yang
tidak mencukupi menjadi caleg terpilih.
14. Di Ternate, Maluku Utara, seorang caleg
berinisial HT meminta kembali televisi yang sudah disumbangkan ke
warga. Ini dilakukan karena perolehan suara sang caleg sangat rendah.
Kejadian ini terjadi di RT 02 Kelurahan Falawaja II, Kota Ternate
Selatan.
15. Seorang caleg di Cirebon, Jawa Barat, kini sering
melamun dan mengurung diri. Nasib ini menimpa Iwan Setiawan, caleg
Partai Patriot asal Kabupaten Kuningan. Apa yang dialami Iwan ini bisa
jadi hanya satu dari banyak kasus yang bakal terjadi. Setelah
mengetahui hasil penghitungan suara tidak sesuai harapan, pria berusia
29 tahun ini mendadak menjadi pendiam dan sering mengurung diri di
kamar. Keluarganya menduga, perilaku Iwan Setiawan terjadi karena
kekalahannya dalam pemilu 9 April lalu. Iwan Setiawan memang telah
menghabiskan uang yang banyak untuk kampanye. Setidaknya Rp 300 juta
ludes dibuyurkan.
16. Ni Putu Lilik Heliawati (45), caleg nomor tiga
Partai Hanura untuk DPRD Buleleng, meninggal dunia secara mendadak di
rumahnya Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng.Musibah terjadi
Kamis (9/4) malam sekitar pukul 23.30 Wita itu. Heliawati diduga
meninggal akibat serangan jantung setelah menerima telepon dari tim
suksesnya bahwa perolehan suara yang bersangkutan tidak memenuhi
harapan.
17. Caleg nomor urut 15 Daerah Pemilihan (Dapil)
berinisial S Sirimau untuk DPRD Kota Ambon, hendak menarik kembali
karpet yang telah disumbangkan kepada ibu-ibu pengajian setempat.
18. Caleg DPRD Kulon Progo menarik kembali sejumlah
hadiah dan sumbangan yang pernah ia berikan kepada warga Desa
Karangsari, Pengasih, Kulon Progo. Caleg yang menarik kembali sumbangan
kampanyenya itu, S, caleg perempuan.Saat masa kampanye, S cukup sering
memberikan sumbangan dan hadiah kepada warga. Di Dusun Kamal,
Karangsari, misalnya, ia memberikan 14 zak semen untuk pembuatan jalan
konblok. Menurut warga, S juga memberikan bantuan alat musik drumband
dan uang tunai Rp 2,5 juta.
19. Di Kalimantan Tengah muncul dua caleg dan tiga
simpatisan partai yang mengalami tekanan psikis. Dua dari lima orang
itu mengalami gangguan jiwa ringan atau stres, seorang gangguan jiwa
sedang atau depresi. Dua lainnya mengalami gangguan jiwa berat: terus
mengoceh, murung, serta tak mau makan serta Minum. Kelimanya kini
dirawat di Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat Kalawa Atei, Kalteng.
20. Dahlan, caleg DPRD Bulukumba dari Partai Peduli
Rakyat Nasional (PPRN). Caleg nomor urut tiga yang bertarung di Dapil I
Kecamatan Herlang, Bonto Tiro dan Kajang ini, melakukan aksi penyegelan
gedung SDN 225 Kajang-Kajang, Desa Borong, Kecamatan Herlang.Dahlan
mulai menyegel sekolah ini sejak Sabtu (11/4) malam lalu dengan cara
mengikat pintu gerbang sekolah menggunakan tali. Ia menyatakan, lahan
yang ditempati gedung sekolah itu adalah miliknya.
21. Caleg EP dari partai RepublikaN menggusur 42 KK
dari lahan tempat mereka tinggal di kawasan Daeo, desa Gura, kecamatan
Tobelo, kabupaten Halmahera Utara (Halut). Tergusurnya warga itu
dikarenakan ada pengusiran dari pemilik lahan yang beralasan bahwa
tempat tinggal warga “menumpang” itu akan dibangun tempat usaha. EP
yang merupakan caleg dari partai RepublikaN tak memperoleh satupun
suara dari TPS para warga berdomisili, yang menjadi pemicu dari
penggusuran tersebut.
22. Tim sukses salah satu caleg dari partai Golkar di
Dapil I Ternate (Ternate Selatan-Moti) yang menarik televisi yang
diberikan di pangkalan ojek Falajawa II, Kelurahan Kayu Merah, termasuk
merusak pangkalan tersebut hanya beberapa jam setelah penghitungan
suara berakhir.
23. Tim sukses Caleg berinisial MG di Kelurahan Jati
Ternate melakukanpenarikan televisi dan bantuan semen. Hal ini
dilakukan karena suara yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan.
Arif Hidayat,
Dari berbagai Sumber.
Photo: http://pikatan. files.wordpress. com

Nasihat untuk kaum muslimin tentang pemilu (penting untuk disebar luaskan agar tidak salah pilih)

Selasa, 7 April, 2009 07:42 Dari: “Halimah Khan”

pemilu

Info mohon disikapi dengan jernih…… ……… ……… …

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

1. UU Anti Pornografi (UUAP) yang diagendakan dan dibahas oleh anggota dewan
beberapa waktu yang lalu mendapat ganjalan luar biasa oleh
fraksi-2 dari PDIP & PDS.

2. UU perbankan syariah yang nota bene tidak menghalangi tetap eksis-nya
perbankan konvensional, lagi-2 ditentang habis-habisan oleh fraksi PDS.
Syukur Alhamdulillah pada talk show di TV One, pakar ekonomi syariah Antonio
Syafiie dapat menjawab semua serangan penentangnya yang mementahkan anggapan
bahwa perbankan syariah melulu produk Islam. Oleh Antonio Syafiie
diungkapkan bahwa, bible-pun mengisyaratkan perintah ekonomi non ribawi.

3. Di Kalimantan, takbiran pada hari raya Idul Adha sempat dilarang oleh
pemda setempat dengan alasan yang tidak jelas. Sementara perayaan tahun baru
China yang penuh hingar bingar justru mendapat dukungan pemda, dengan alasan
sebagai objek tourisme. Usut punya usut ternyata dibalik semua ini karena
gubernurnya adalah orang nasoro.

4. Di Nusa Tenggara, seorang bupati terlibat langsung dalam pembaptisan
massal. Tidak sedikit saudara kita yang terpaksa meninggalkan akidahnya agar
dapat menjadi pegawai negri.

5. Siaran langsung radio elshinta minggu lalu, beberapa caleg dari partai
kaum nasoro mengungkapkan visi dan misinya apabila terpilih menjadi anggota
dewan. Salah satu misinya adalah mendukung pendirian gereja di setiap
wilayah hingga tingkat RW.

6. Masih ingat projek yusuf 2000 ? dimana partai kaum nasoro bertekad
mengusung kaumnya menjadi presiden RI dan memajang foto Yesus di istana
negara ?

Situasi terkini, sebenarnya kampanye untuk golput diarsiteki dan dimaninkan
dari balik layar oleh kalangan non muslim. Dengan harapan jumlah pemilih
dari kalangan muslim menurun drastis. Di sisi lain kalangan non muslim
(nasoro) mengarahkan jamaahnya pada satu partai nasoro ….

Data dan fakta di atas hendaknya dapat kita jadikan renungan. Masihkah kita
bersikap acuh tak acuh pada proses pemilihan anggota dewan dan calon
pemimpin RI ?

Saudaraku ….. dari fakta di atas hendaknya kita tidak golput.
Dengan golput sama saja dengan memuluskan dan membiarkan rencana-2 kaum
nasoro menguasai negri ini.

Apapun pilihan anda, pastikan yang anda pilih adalah saudara SE AKIDAH .
Insya Allah, walaupun pada awalnya mereka berangkat dari sisi yang berbeda,
tetapi bila harus berhadapan dengan hal-hal yang menyangkut akidah mereka
bisa bersatu …….. telah terbukti di UUAP dan UU Perbankan Syariah,
dimana anggota dewan muslim bersatu dan saling mendukung.

Mohon sampaikan himbauan ini kepada teman, kerabat dan keluarga anda ..

Wasalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Jangan pake HP di Pesawat Terbang

Sekedar sharing dari milis lain

Teman-teman yang budiman,

Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda, GA 200 pada tanggal 7 Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyakarta di Bandara Adisucipto.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan.

Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang wargaJerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, padahal saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat. Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya.

Ketika ditanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah Manager salah satu perusahaan industri, dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunakan ponsel di dalam ruangan mesin turbin.

Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi ponsel dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi, akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.

Rakyat kita ini memang high class…handphone nya mahal, transportasi pakai pesawat.

Tapi bodohnya gak ketulungan. Ada yang gak tahu kenapa larangan itu dibuat, ada yang tahu tapi tetap gak peduli.

Orang Indonesia harus selalu belajar dengan cara yang keras.

Buat yang belum tahu, kenapa tidak boleh menyalakan Handphone di pesawat, berikut penjelasannya:

Informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontribusi yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh ponsel. Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih yang sering menggunakan pesawat terbang.

Contoh kasusnya antara lain; 10 January 2000.

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja take-off dari bandara Zurich , Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor dibagasi lupadimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.

Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang “final approach” untuk “landing” di bandara Heathrow, London.

Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).

Di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan.

Para “pelanggar hukum” itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai penumpang lain, di samping merupakan gangguan terhadap kenyamanan orang lain.

Padahal awak kabin selalu mengingatkan penumpang sebelum take off dan ketika akan mendarat, ponsel harus dimatikan, tidak hanya di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.

Berikut merupakan bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat:

Arah terbang melenceng, Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, Gangguan penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, Gangguan sistem navigasi, Gangguan frekuensi komunikasi, Gangguan indikator bahan bakar, Gangguan sistem kemudi otomatis, Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan gangguan lainnya seperti Gangguan arah kompas diakibatkan oleh CD & game. Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh Gameboy.

Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.

Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.

Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik.

Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada di bawahnya.

Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.

Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.