Melindungi Hak & Kekayaan Intelektual

(Chandra 2.0)

Bayangkan jika anda memiliki sebuah usaha yang telah berjalan dan berkembang dibawah payung merek yang anda buat, dan tiba-tiba ada pesaing yang membuat usaha dengan nama yang sama? Apa yang akan anda lakukan?

Jika anda tidak memiliki hak intelektual atas merk yang anda buat, sah-sah saja bagi pesaing anda untuk melakukan itu, bahkan dia bisa juga mengklaim hak intelektual tersebut dan merebut kerja keras anda yang telah membesarkan nama merek tersebut. Bikin bete gak tuh?

Tak hanya pada merk, ini juga bisa terjadi pada produk anda yang dijiplak bentuk, kemasan, bahkan source code software atau website anda. Itu semua merupakan sebuah kekayaan intelektual yang harus dilindungi yang kuat dengan cara diakui dan tersertifikasi sehingga kuat dan sah secara hukum. Caranya tidak sulit dan tidak mahal.

Hari Senin lalu, saya mendaftarkan beberapa merk dan produk  yang saya ciptakan. Dua merk yang saya daftarkan adalah bentuk logo dan type, sedangkan produk yang saya daftarkan adalah proses kerja/bentuk dari produk itu sendiri.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menghubungi pengacara/advokat yang mengurusi soal hak cipta, paten dan kekayaan intelektual, atau seorang konsultan HKI. Lakukan konsultasi by phone, nanya-nanya gak bayar kok. Setelah itu minta dikirimi checklist berisi apa saja yang perlu dipersiapkan via email. Isi dari checklist berbeda-beda sesuai dengan apa yang ingin anda lindungi. Contohnya, bila merek dagang, salah satu yang dipersiapkan adalah logo book berisi 30 logo anda dengan semua ukuran logo dari 2×2 cm hingga 9×9 cm, bila software ya source code dan mapping software anda.

Selain itu siapkan fotokopi KTP & NPWP, fotokopi akta pendirian (jika perusahaan), serta surat kuasa dan pernyataan yang telah ditandatangi oleh pemohon kepada sang pengacara dengan materai 6000 rupiah serta tanda tangan anda. Thats it on your part.

Setelah itu, pengacara akan melakukan pemeriksaan pendahuluan (cross reffrence) atas merk, dilihat apa sudah ada atau belum, ada yang mirip atau tidak, dll. Jika belum ada, maka pengacara akan segera meregistrasi merek anda. Setelah teregistrasi, anda dapat mencatumkan tanda Registered yang berbentuk ® pada logo anda, atau Copyright yang berbentuk © pada software, buku atau lainnya yag anda daftarkan.

Secara sah, merk atau produk sudah terdaftar atas nama anda, namun secara sertifikasi belum. Karena proses sertifikasi dilakukan oleh pemerintahan kita, dan kita tahu seberapa “cepat” mereka bekerja, sertifikat merek baru keluar paling cepat 24 bulan dan paling lama 36 bulan. Bikin geleng gak tuh.

Dalam seminar mengenai merek dagang yang saya ikuti saat Pekan Produk Kreatif Indonesia 2010 lalu, hal tersebut saya tanyakan kepada petugas pemerintahan yang bertugas. Katanya waktu yang dibutuhkan lama karena harus mencocokkan satu persatu dengan berkas-berkas logo lain. “Kita harus bongkar bentuk logo dari lemari pak, petugas kami mencocokkan satu sama lain”, katanya. Kalau ini tahun 80an itu jawaban oke deh, sekarang dah Abad ke 20 mas, pake komputer dan server dong, invest software untuk matching image data, please deh. Oh well, pantesan sering kecolongan.

Oke, walau sertifikatnya lama, setidaknya sudah terdaftar dan dimata hukum Indonesia itu sudah sah, dengan kata lain produk atau merek anda sudah terlindungi oleh payung hukum dan valid secara nasional maupun internasional. Jika terjadi pelanggaran hak cipta, hubungi saja pengacara yang mengurus proses registrasi anda dan mereka akan senang hati membantu menuntut hak anda.

Biaya yang perlu dikeluarkan untuk proses registrasi (per 2010) adalah:

  • Biaya pemeriksaan (per merek/produk): Rp.100.000
  • Biaya pendaftaran dan registrasi: Rp.600.000 (pemerintah) + Rp.550.000 (jasa pengacara)
  • Sertifikat Merek: Rp.100.000 (pemerintah) + Rp.100.000 (jasa pengacara)

Jadi totalnya sekitar Rp.1.450.000, belum termasuk PPN 10% dan biaya lain seperti fotokopi dll jika ada.

Gak mahal lah, apalagi untuk ukuran perusahaan atau bisnis dibanding dengan resiko diklaim orang lain, ini receh. Jadi tunggu apa lagi? Gih sono daftar sebelum merek atau produk anda diklaim tetangga…eh…pesaing anda.

(Chandra 2.0)

Mencoba berpikir lebih, untuk apa kita membayar pajak?

SLOGAN orang bijak patuh membayar pajak kini kian lirih ditelan karut-marut penuntasan kasus Gayus yang menyeret sejumlah pejabat menengah di lingkungan Polri. Bijakkah orang membayar pajak dengan mengabaikan pertanyaan kemana uang pajak yang dibayarkan akan mengalir? Menyimak perkembangan kasus Gayus memperlihatkan bahwa ternyata persekongkolan Gayus juga diindikasikan melibatkan tiga perusahaan Grup Bakrie sepanjang 2008. Selain Gayus diindikasikan menahan laju kasus surat ketetapan pajak PT Kaltim Prima Coal, Gayus juga membantu proses banding PT Bumi Resources di pengadilan pajak serta membuatkan surat  pemberitahuan pajak pembetulan untuk pengurusan sunset policy PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. Konon, berkat kelihaian Gayus dan kelompoknya, ketiga perusahaan Bakrie itu terhindar dari keharusan menyetor pajak plus denda dengan jumlah lebih banyak ke kas negara yang menurut keterangan Gayus kepada penyidik ketiga perusahaan itu memilih jalur belakang, yaitu membayar sogokan melalui mafia pajak tidak kurang dari US$ 7 juta atau sekitar Rp 65 miliar. (http://www.kr.co.id/)

Mungkin, hal itulah yang mendorong Gayus untuk pergi ke Bali dengan alasan mengikuti pertandingan tenis internasional sebagai skenario untuk bertemu dengan Bakrie sebagaimana kini ramai diberitakan sejumlah media massa. Uang pajak semestinya mengalir untuk subsidi kepada rakyat miskin melalui APBN, subsidi BBM, membiayai program/kegiatan pemerintah, dan seterusnya. Jumlah penduduk miskin di Indonesia kini diindikasikan naik dari 32,5 juta jiwa pada 2009 menjadi tak kurang dari 32,7 juta jiwa pada tahun 2010. Dalam teori bakti yang lazim dikenal dalam perpajakan, pajak dimaksudkan untuk merealisasikan kewajiban warga negara untuk membiayai tugas-tugas negara. Hal ini memperlihatkan secara kasat mata pertalian antara pajak dan kebijakan multisektor. Gagalnya negara melaksanakan amanat konstitusi untuk melindungi fakir miskin dan mewujudkan kesejahteraan rakyatnya tak urung juga membawa pada kesimpulan bahwa negara telah gagal memenuhi kepercayaan rakyat dalam mengelola uang pajak. Rencana pembatasan kuota BBM karena pemerintah bermaksud melakukan penghematan subsidi BBM sebesar Rp 10 triliun. Pembatasan konsumsi premium dan solar yang diperkirakan dapat menyumbang penghematan Rp 78 triliun, dengan sisanya sebesar Rp 23 triliun akan diperoleh dari penghematan konsumsi minyak tanah, juga dilihat sebagai keterkejutan Pemerintah terhadap realitas kemungkinan membengkaknya subsidi BBM yang konon dimaksudkan untuk diberikan kepada masyarakat lapisan bawah. Gagalnya pemerintah mengelola kepercayaan rakyat di sektor perpajakan menimbulkan multiplier effect terhadap rendahnya kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kewajiban konstitusionalnya untuk menyantuni fakir miskin dan anak telantar. Sehingga kuat diduga bahwa rencana pembatasan kuota BBM ditarik sebagai isu untuk menutup kegagalan Pemerintah dalam kebijakan penuntasan agenda pemberantasan korupsi yang berdampak terhadap lemahnya kebijakan subsidi pemerintah. Dalam pandangan Russel, bahasa yang diungkapkan seharusnya menggambarkan realitas yang diwakilinya, namun yang dimaksudkannya adalah bahasa yang sempurna yang terlepas dari kedwiartian atau kekaburan. Kebijakan pembatasan BBM dengan mengangkat isu seputar efektivitas subsidi BBM terhadap rakyat miskin dan melepaskannya dari realitas rumitnya menuntaskan kasus mafia pajak dan gurita korupsi, ibarat sebuah proposisi molekuler yang oleh Russel dikatakan telah melalaikan fakta umumnya (gurita mafia pajak dan korupsi) dan menggantikannya dengan fakta khusus (alokasi subsidi BBM). Proposisi semacam itu tidak menggambarkan realitas sebenarnya dan menjadikan logika kebijakan itu salah penalaran (fallacy). Dan hal itu telah mengubah rakyat menjadi korban ketidakbecusan aparat penegak hukum menuntaskan sejumlah kasus korupsi yang seharusnya uang yang dikorup tersebut bisa diperuntukkan menyantuni fakir miskin. Serta dalam kondisi bencana seperti yang terjadi secara beruntun akhir-akhir ini bisa untuk mengurangi beban para pengungsi korban bencana alam. Fakta umum memperlihatkan bahwa para pembayar pajak paling patuh justru para pegawai/karyawan yang tergolong kelompok menengah ke bawah yang pajaknya langsung dipotong oleh pemberi kerja tanpa sempat mempertanyakan kemana akhirnya uang pajak itu mengalir. Indikasi manipulasi pajak oleh tiga perusahaan di atas sebenarnya perlu dijadikan entry point untuk menguak persekongkolan pajak yang lebih besar dan melibatkan perusahaan-perusahaan nakal di negeri ini. Apa kata dunia jika ternyata orang kaya di negeri ini ternyata justru disantuni oleh mereka-mereka yang seharusnya disantuni oleh negara?

NEGARA AMERIKA DIBANGUN DARI EMAS PAPUA

ndonesiaku yang tetap terjajah…: (

=====

NEGARA AMERIKA DIBANGUN DARI EMAS PAPUA
Diposkan oleh ARKILAUS ARNESIUS BAHO Minggu, 24 Januari 2010

Oleh: Subhan Hassannoesi
Aktivis Dakwah Papua yang juga anggota Majelis Muslim Papua ( MMP )

Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia , CIA and Freeport .”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN , bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar.. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia , kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport .

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia . Selain kaitannya dengan Freeport , Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia . Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.
http://berita. liputan6. com/progsus/ 200209/41945/ class=%27vidico% 27

Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport ?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia . Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport . Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport !. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia , maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia .

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapur a sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Pasar oh.. Pasar

ke pasar

ke pasar


Para capres dan cawapres lagi heboh-hebohnya berlomba turun kepasar -tradisonal
semuaanya ingin menunjukkan kepedulian terhadap pasar tradisional.

Dyuuuh Bapak-bapak dan Ibu yang yang terhormat kemana ajaaa slama ini? kok baru ke pasar ?

Mata ini sudah geli melihat bertebarannya Supermarket dan minimarket dimana-mana, sebut saja Di daerah Ciputat daerah jajahanku sehari-hari.

Mulai dari Giant dan Carrefour saling berhadap-hadapan di LEbak Bulus, belum cukup 4 km sudah ada Giant lagi di daerah Ciputat raya, Makro. belum lagi minimarket-minimark et yang hanya berjarak sejengkal-sejengkal padahal yang dijual yaaa itu-itu aja.. nothing different kcuali baju seragam pegawainya ( eeeh lupa hampir sama ding, ada Biru, merah dan kuningnyaaa. …hehehe)

Padahal minimarket yang sistem franchise itu mengeluarkan tidak sedikit modal. bagaimana sih sebenarnya regulasi pemerintah untuk melindungi para pedagang kecil dan para frachisee??,

menurutku orang awam ini, yang ngasih franchise sih enak, para franchisee siapkan modal, tapi kerugian ditanggung sendiri, Seharusnya suatu franchise ada perlindungan untuk kliennya untuk jarak market yang akan dibuka.

Sungguh menggenaskan. Bayangkan dengan hanya jarak 500 meter sudah ada minimarket yang sama? belum lagi yang Minimarket Marek lainnya, dan itupun dekat dengan pasar tradisional. Apa rakyat disuruh belanjaaa tiap hari?

Dan terus terang saja Aku kadang udah lupa dimana letak langganan tukang buah dan Sayur, dimana pedagang daging, ikan dan ayam langganan di pasar Ciputat dulu.

kadang Aku merindukan mereka, Senyum dan keramahan saat tawar menawar dan tak jarang wajah-wajah cemberut mereka saat tawaranku rada gila…;p tapi naluri ibu-ibuku yang mengharapkan harga lebih murah dan sedikit mengalahkan rasa malu tuk menawar.

Seringkali harga barang-barang di Supermaket dan minimarket jauh lebih murah daripada tradisional dan tentunya kenyamanan berbelanja dengan ruangan ber AC tanpa becek dan tanpa naik Ojeeek juga.

Yaaah terpaksalah ke Supermarket tiap awal bulan, atau ke minimarket hanya sekedar beli gula sekilo atau sabun cuci yang tiba-tiba habis.

Teringat warung peracangan yang biasa menjual kebutuhan harian, kadang harus sepi pembeli karna tidak kuat bersaing dengan minimarket yang ada dihadapan mata. Gimana mau menutup setoran untuk pemasok barang?

Tak ada solusi dariku kecuali nyanyian ala wali berikut ini :

Bapak bapak dan Ibu Capres… Semuanyaaa
Tolonglah pedagaaang.. .
berilah ruang untuk berjualan