Mahasiswa Ampas
Fiyan Arjun
Begitu saya katakan! Sebutan untuk mahasiswa yang ingin back to campus!
Ingin mengenyam bangku kuliah kembali. Atau, sebutan bagi mahasiswa
yang mengambil perkuliahan pada jam khusus. Masuk pada perkuliahan
malam hari. Begitu pun dengan dosennya. MUNGKIN?!
Ampas, di sini bukan arti harfiah yang sebenarnya yang saya katakan
melainkan sebuah perumpamaan (majas). Atau, juga bukan sebuah singkatan
dari Anak Mahasiswa (bermuka) Pas-pasan. Pun menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), ampas adalah sisa barang yang telah diambil sarinya
atau patinya—sesudah tidak berguna lagi lalu dibuang (tidak
diperdulikan lagi). Tidak! Itu jauh dari makna sebenarnya yang saya
tuliskan di sini.
Ampas mungkin menurut streotip bahwa hal itu tak berguna sama sekali
dalam sebuah kehidupan. Tetapi saya katakan lagi hal ini tidak ada sama
sekali menyangkut sesuatu atau pun benda. Karena di sini saya
membicarakan tentang sebuah sikap—yang patut diacungi jempol! Sebuah
sikap yang dilahirkan dari lubuk hati yang ikhlas dan penuh semangat
baja yang bersumber dari manusia bernama MAHASISWA.
Coba bayangkan ketika badan sudah luluh lantak seharian bergelut penuh
dengan berbagai kegiatan rutinitas masih diharuskan diri untuk
menggugurkan kewajiban kita sebagai manusia yang berpredikat mahasiswa.
Harus hadir dalam perkuliahan. Tentu hal ini tak mudah untuk dilakukan
bagi mahasiswa yang saat itu dengan secara dipaksakan untuk memenuhi
kewajibannya sebagai seorang mahasiswa untuk menghadiri perkuliahan
disaat-saat kondisi yang sangat-sangat melelahkan. Tetapi itulah
kenyataan yang saya alami atau yang pernah saya lihat. Bagaimana
kondisi mahasiswa yang benar-benar harus (pintar) memilih. Antara
memilih kondisi atau kuliah (lagi)—dari kesemua itu untuk masa depan
mereka yang lebih baik nanti. Ketimbang mendapatkan status Madesu.
Mahasiswa Masa Depan Suram. Atau, Mabad. Mahasiswa Abadi. Ironi sekali!
Analoginya saya tuliskan seperti ini. Jika mereka yang berstatus
mahasiswa sekaligus pekerja dan seusai melakukan kegiatan rutinitasnya
mereka harus disibukan kembali dengan memenuhi kewajiban mereka untuk
menghadiri perkuliahan. Tentu itu suatu pilihan berat. Dengan kondisi
seperti itu mereka harus pandai pula mengatur waktu yang tepat agar
tidak kewalahan. Atau, akan tercerabut masa depan mereka. Jadi memang
mau tidak mau mereka harus pandai-pandai mengatur waktu. Kalau tidak?
Tentu hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Seperti mengulang (her)
mata kuliah yang tidak memuaskan dari segi nilai. Mendapatkan nilai D.
Diulang! Sungguh cobaan terberat bagi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa
ampas.
Memang diakui ketika mereka atau juga saya ketika malam harinya harus
menghadirkan dalam kondisi penat. Adalah suatu ujian berat. Apakah
mampu untuk hadir diperkuliahan atau tidak dengan kondisi seperti itu.
Dan itu kembali pada invidu masing-masing. Jika tidak ingin
ketidakhadiran- nya mengalahkan jumlah mahasiswa yang ada ya harus
hadir! Entahlah.
Namun saya juga tidak bisa men-judge apabila ada mahasiswa saat
menghadiri perkuliahan tidak bisa memahami dan mencerna materi
perkuliahan dengan baik. Itu lumrah. Wajar. Tetapi lagi-lagi saya
katakan kembali, tidak selamanya mahasiswa yang mengikuti perkuliahan
pada malam hari malam atau mahasiswa yang berusia tak muda lagi semua
mahasiswa yang ada ber-IQ tetap sama. STD BGT! Biasa-biasa saja.
No…no…Itu salah besar. IQ mereka boleh saja diadu oleh mahasiswa yang
melakukan perkuliahan secara regular. Mahasiswa yang mengikuti
perkuliahan pada pagi dan siang hari.
Ya, saya akui mengikuti perkuliahan dalam kondisi yang sehariannya
sudah dipenuhi oleh kegiatan rutinitas sehari-hari tak bisa disamakan
oleh mahasiswa yang mengikuti perkuliah regular seperti biasa.
Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada pagi dan malam hari walau
dalam kapasitas kewajiban seorang mahasiswa itu tetaplah sama saja.
Namun hanya saja dalam waktu dan kesempatan saja yang membedakannya.
Ketika mereka (mahasiswa) disibukan oleh kewajiban sebagai makhluk
Tuhan yang sempurna. Bekerja. Dan menjemput nafkah. Baik untuk anak dan
istri maupun untuk diri mereka sendiri—yang masih meng-update status
facebooknya: masih jomblo nih! Tentu itu tak berpengaruh banyak. Tetapi
tetap saja sama dalam hal kondisi waktu dan kesempatan. Terlebih ketika
diketahui bahwa mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada malam hari
banyak dipadati para mahasiswa dari berbagai usia, kalangan bahkan
profesi sekalian.
Mengenai usia? Mungkin sangatlah beragam. Halnya di tempat saya
menuntut ilmu (kuliah) mahasiswa yang paling termuda diduduki berusia
17 tahun. Dan yang sudah dewasa berusia mendekati kepala 3 tahun. Pun
dari kalangan dan profesi juga sama. Sangatlah berbeda. Dari yang
menganggur (hanya kuliah saja), pekerja sampai para pendidik pula. Jadi
tidak salah kalau saya mengatakan mahasiswa ampas. Namun dengan kondisi
seperti itu pun sudah saya katakan sebelumnya mahasiswa seperti ini
patut dijempoli. Ternyata dibalik kepenatan mereka menuntut ilmu sudah
ter-mindset ada dideretan nomor satu dibenak mereka. Amazing! Usia
(boleh) tua tetapi jiwa tetap muda. Masih mau berkeinginan belajar.
Never old to learn.
Tetapi bagaimana dengan pengajarnya (dosen) itu sendiri? Hmm…saya kira
saya tak mau men-judge. Tetapi inilah yang berlaku ketika ilmu (materi)
yang disampaikan tentu saja ilmu sisa-sisa yang sudah diberikan pada
perkuliahan di pagi dan siang hari. Tapi itu tak mengapalah. Karena
dalam hal ilmu tak ada kata sisa. Selalu saja didapat dimana pun berada
kalau memang mahasiswa itu sendiri ingin aktif dan mau maju. Namun ada
satu hal lagi yang menjadi kekhawatiran mahasiswa ampas. (Kok tidak ada
selesainya ya?). Jika suatu saat jika pengajarnya (dosen) itu sendiri
memberikan materi perkuliahan tanpa melihat kondisi dan situasi anak
didiknya itu yang menjadi momok mahasiswa. Sudah barang tentu lagi-lagi
akan menjadi problematika mahasiswa itu sendiri. Kalau sudah begitu
siapa yang perlu dipersalahkan? Mahasiswanya atau pengajarnya (dosen)?
Ya, begitulah nasib mahasiswa ampas. Tak bisa berbuat banyak! (fy)
Ulujami—Jakarta, 22 Oktober 2009
Keterangan:
*) Penulis adalah Mahasiswa Semester Satu Jurusan Manajemen Informatika dan penulis Buku Bela Diri For Muslimah.