Friday, March 27, 2009 4:28 PM
From:
“Bachrul Ulum” <gusbachrul@gmail.com>
Biar jd diskusi yg menarik dan tidak menjurus, saya pake judul yg beda boleh
ya?
Menurut pendapat saya, kita perlu meneliti kembali apa sebenarnya
permasalahan yg ada. Jika kita mengatakan orang2 dalam sistem yang melakukan
kesalahan, atau dengan kata lain ognum yg salah, maka tidak ada yg bisa
diperdebatkan lagi. Mengapa demikian? dari pengalaman diskusi saya di
kampus, dosen selalu mengajak untuk tidak berpikir bahwa orang yg salah
(walaupun kenyataannya demikian), karena kalau sudah menyimpulkan orang yang
salah, maka diskusi akan berhenti. Kalau sudah dikatakan *”kembali ke
orangnya masing-masing” * maka habis perkara, tidak ada usaha untuk
menyelesaikan atau memunculkan pemikiran baru sebagai solusinya.
Jika kita mengatakan bahwa sistem yg salah, maka tentu kita harus
membuktikan apa yg salah dalam sistem itu. Misalnya sistem itu internal
controlnya jelek, maka bisa dikatakan bahwa sistem itu salah. Akan tetapi
setelah diketahui bahwa sistem itu salah atau kurang tepat, tidak dengan
mudah sistem itu bisa dirubah. Sama jika kita misalkan merubah sistem itu
dengan orang belajar. Hampir tidak ada orang yg pinternya instan, selalu
dengan proses yg panjang. Diperlukan persyaratan- persyaratan untuk belajar,
begitu juga merubah sistem. Dalam merubah sistem, kita memerlukan banyak
syarat dan tantangan. Perlu suatu payung hukum yg kuat, orang2 yg memiliki
power untuk itu, perlu biaya yg besar, perlu orang2 yg ahli dalam sistem yg
lama dan yg baru, perlu waktu yg lama (setidaknya 25-50 tahun jika sistem
itu melibatkan lingkup negara). Tantangannya juga buanyak mas, terutama
kuatnya resistensi orang2 lama terhadap sistem yg baru.
Lalu apakah sistem tidak bisa mengubah orang? Tentu saja bisa. Sistem yg
tegas dan jelas akan merubah perilaku orang2 yg ada di dalamnya. Tentu saja
tidak serta merta begitu saja, tapi juga masih ada faktor2 yg menentukan,
misalnya leader yg tegas dan bijak. Hal ini sudah terbukti di instansi saya
(Depkeu), bahwa sistem memang bisa merubah orang2 dalam sistem. Caranya?
bikin sistem dan perangkatnya menjadi jelas dan tegas, ada reward dan
punishment, pemimpin yg tegas, adakan assessment/seleksi dari para bawahan.
Dengan cara itu, pegawai yg ingin maju akan mengikuti sistem yg baru
sedangkan pegawai yg resisten akan terreduksi seiring dengan waktu.
Kalo untuk masalah penerapan syari’at islam dan atau penerapan syari’at lain
selain islam, kita harus melihatnya kontekstual. Saya adalah seorang muslim,
dan tentunya cinta dengan syari’at islam. Tapi,… dalam konteks negara,
banyak sekali pertimbangan yg digunakan. Bahkan, salah satu tokoh yg
“menghilangkan” tujuh kata dalam pembukaan UUD 1945 adalah orang Islam,
kalangan pesantren, orang Jombang lagi! Beliau adalah KH. Wahid Hasyim. Jika
saat itu negara ini tetap bersikeras menerapkan syari’at Islam, kita tidak
akan tahu apakah kita akan menjadi seperti sekarang atau tidak. Bisa jadi,
kita tinggal di negara jawa atau negara east java, atau negara apa lah,…
atau malah belum merdeka? bisa jadi.
Saya cinta agama saya, begitu juga orang lain pasti juga cinta dengan
agamanya masing2. Islam mengajarkan penganutnya untuk berpikir secara
kontekstual, bukan tekstual. Ada konsep tasamuh (toleransi), ada tuntutan
untuk selalu belajar, tidak menganggap benar sendiri, ketika menemukan
sesuatu yg berbeda maka ia pun mengatakan bahwa ia belum tahu dasarnya.
Muslim diajarkan untuk tidak malu mengatakan* “saya tidak tahu”*, bukan
menjawab *”menurut saya”* (kecuali di luar masalah agama).
Bagi agama yg lain, saya yakin juga demikian. Mereka pasti juga diajarkan
untuk menghormati perbedaan, tidak merasa benar sendiri. benar kan?
Tentunya, dalam diri pribadi kita sendiri harus yakin bahwa agama kita yg
benar. Tetapi dalam urusan keduniaan dan urusan sosial, maka harus ada
toleransi. Semua agama mengajarkan hubungan sosial tanpa pandang bulu.
Bahkan, dalam Islam, Nabi Muhammad pun mengajarkan bagaimana berdagang
dengan orang2 Yahudi, memakan jamuan orang2 selain Islam, dll.
Jika ingin berdiskusi secara terbatas, nanti kita sambung di forum yg lain.
OK? Di mana-mana dan dalam diskusi apa saja selalu diperlukan orang yang
ahli dalam bidangnya. Jika tidak demikian, maka hasilnya tidak akan maksimal
atau bisa jadi akan mendapatkan kesimpulan yg kurang tepat (itu pun kalo
didapat kesimpulan). Saya tidak ahli dalam hal ini, tetapi demikianlah
beberapa hal yg saya pelajari dari guru2 saya, mungkin bisa dijadikan suatu
sumbangan pemikiran. Pastinya, masih ada yg salah wong saya ini kan masih
bodho…
bachrul ulum
IPA 3 / 2001
Pada 26 Maret 2009 11:56, andreas susanto <kaka290801@gmail. com> menulis:
> Akhirnya baliknya kesitu2 jg! Masalah krn sistem aku ndak setuju. Kalo
> orangnya emang mentalitasnya ndak bener ya tetep kayak gt. Kalo mas
> kafi bilang krn sistem yg membuat mereka berubah ndak mungkin. Semua
> sistem dibuat dlm kondisi ideal dalam arti pasti jg diharamkan unt
> korupsi dan sebagainya. Setahuku semua sistem baik sosialis dan
> liberal jg seperti itu. Nah kalo ternyata sistem sudah berubah sesuai
> syarikat islam trus ternyata tetap seperti itu gmn? Karena oknum? Sama
> aja donk!
> Dan setahuku masalah syarikat islam udah selesai sejak th 1945 pada
> saat piagam jakarta dipake dasar negara minus syarikat islam dan
> menjadi pancasila. Trus kita mo balik berdebat ttg sesuatu hal yg udah
> dipikirkan pendiri negara kita jauh sebelum sampeyan lahir. Dan mereka
> menghilangkan syarikat islam krn kemajemukan negara kita.
> Mohon tanggapan.
> Salam
>
>
> On 3/25/09, hidonis_joe <hidonis_joe@ yahoo.com <hidonis_joe% 40yahoo.com> >
> wrote:
> > Berubahnya pemimpin di negeri ini yang mulanya idealis jadi ‘berubah’
> > menjadi pemimpin yg gak becus (dholim) menunjukkan bahwasannya ada faktor
> > eksternal yang merubah mereka, saya katakan karena sistemnya yang
> mengubah
> > mereka.
> >
> > Dan juga pada fakta lainnya, seperti BUMN (yang 100% pemerintah) tidak
> > menjadikan lebih baik negeri ini. Ini juga menunjukkan adanya kesalahan
> > sistem, dan bukan karena semata-mata kesalahan/keburukan dari person-nya.
> >
> > Sistem yang diterapkan di negeri ini adalah demokrasi, yang juga
> merupakan
> > derivat dari sistem kapitalisme.
> >
> > Kesalahan dari kapitalisme salah satunya adalah kesalahan dalam memahami
> > konsep kepemilikan.
> > Kapitalisme menganggap kepemilikan ada 2 macam yaitu: kepemilikan negara
> dan
> > kepemilikan individu. Di mata para pemikir Timur dan Barat, kepemilikan
> umum
> > adalah kepemilikan yang dikuasai negara, sedangkan kepemilikan pribadi
> > merupakan kekayaan yang dikuasai kelompok tertentu.
> >
> > Sesuai dengan teori Kapitalisme liberal yang bertumpu pada pasar bebas,
> > privatisasi, ditambah dengan globalisasi, negara tidak bisa
> mengintervensi
> > kepemilikan. Akibat kesalahan memahami fakta kepemilikan, terjadilah
> > goncangan dan masalah ekonomi.
> >
> > Dan wajar pula, bila sistem kapitalis membiarkan negara mengambil
> keuntungan
> > sebesarnya dari penjualan BBM dan sumberdaya lainnya, hasilnya harga BBM,
> > TDL, dll naik. Hal itu karena negara merupakan sebagai pemilik SDA
> tersebut,
> > bukan hanya sebagai pengelola.
> >
> > Padahal makna kepemilikan bukan sesuatu yang dikuasai negara atau
> kelompok
> > tertentu.
> >
> > Dalam sistem Islam setidaknya ada tiga macam bentuk kepemilikan. Pertama:
> > kepemilikan umum; meliputi semua sumber, baik yang keras, cair maupun
> gas,
> > seperti minyak, besi, tembaga, emas dan gas; termasuk semua yang
> tersimpan
> > di perut bumi, dan semua bentuk energi, juga industri berat yang
> menjadikan
> > energi sebagai komponen utamanya. Dalam hal ini, negara harus
> mengekplorasi
> > dan mendistribusikan ke rakyat, baik dalam bentuk barang maupun jasa.
> > Ini sesuai dengan hadits Nabi SAW: “manusia berserikat atas tiga hal,
> air,
> > padang rumput, dan api”
> >
> > Kedua: kepemilikan negara. Kepemilikan ini diambil negara dari pajak,
> hasil
> > perdagangan, industri dan pertanian di luar kepemilikan umum.
> >
> > Terakhir: kepemilikan pribadi; kepemilikan ini bisa dikelola individu
> sesuai
> > dengan hukum syariah.
> >
> > Kehancuran Sosialisme dan Kapitalisame antara lain karena keduanya
> > menjadikan kepemilikan- kepemilikan ini sebagai sesuatu yang dikuasai
> negara
> > atau kelompok tertentu (pribadi). Sosialisme gagal dalam bidang ekonomi,
> > karena menjadikan semua kepemilikan dikuasai negara. Sosialisme berhasil
> > dalam perkara yang memang dikuasai negara, seperti industri berat, minyak
> > dan sejenisnya; namun gagal dalam perkara yang seharusnya dikuasai
> individu,
> > seperti umumnya pertanian, perdagangan dan industri menengah.
> >
> > Walhasil, solusi untuk negeri ini yaitu kembali kepada Syariat Islam.
> > Sesuai dengan firman Allah SWT;
> >
> > “Dan, siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh
> > Allah, maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.” (TQS. al-Maidah [5]:
> 45)
> >
> > “Dan, siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh
> > Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (TQS. al-Maidah [5]:
> 47)
> >
> >
> > Untuk itu saya mengajak semuanya untuk segera kembali menjalankan syariat
> > Islam secara kaffah, bukan hanya lingkup ibadah individu saja, melainkan
> > secara menyeluruh.
> >
> >
> > NB :Maaf, baru nanggapin soalnya jarang online.
> >
> >
> > wassalam,
> > Kafi Hidonis