Rindu Dalam Sepucuk Surat
Penjaga hati
Dengan menaruh dendam rindu di
gumpalan benaknya kulihat lelaki itu begitu gundahnya kepada seseorang.
Seseorang yang begitu amat dan sangat ia cintai dari hidupnya.
Entah, kenapa ia bisa begitu
gundah aku juga tak tahu. Tapi ketika aku lihat dari raut wajahnya menampakan
bahwa ia sangat merasa bersalah kepada orang yang amat sangat ia cintai
melebihi dari hidupnya. Tak lain kekasihnya yang ditinggal pergi olehnya. Meninggalkan
tanpa sedikit pun memikirkan hati kekasihnya itu. Ia telah berlaku egois!
“Ya, begitulah sifat lelaki
tidak mempedulikan perasaan perempuan. Terlalu mau menang sendiri!”
“Lho…lho, kok, aku sih yang
dibawa-bawa. Aku ini lelaki setia tidak seperti lelaki itu,” sergahku. Membela
diri.
“Iya sih setia tapi….setia
setiap tikungan!”
“Hussst…kalau bicara
jangan asal goblek saja, kau. Sudah lihat lagi ke arah lelaki itu. Ssstttt…coba
lihat sedang apalagi lelaki itu.” Kuarahkan lagi ekor mataku ke arah lelaki
itu. Ternyata ia sedang menatap tajam ke sebuah pigura kecil berukiran
mengombak. Pigura yang di dalamnya terdapat poto seorang perempuan yang amat ia
cintai menghadap senja tenggelam. Ia amat menaruh rindu kepada perempuan dalam
pigura itu.
“Sudah, ah, aku sudah tak
tertarik lagi melihat lelaki itu. Ayolah, katanya kamu ingin mengajak aku window
shoping. Aku tak mau lho kalau sampai kehabisan sale di Melawai.
Cepatan, ah, aku tak mau sampai kehabisan. Sudahlah aku tak mau kau sampai
seperti lelaki itu.”
“Baik. Baik, akan aku turuti
permintaan kau tapi dengan syarat besok kau temani aku di tempat ini kembali, bagaimana?”
tawarku kepadanya.
“Iya, iya! Kau kalau lagi ada
maunya bisa-bisanya memaksa. Sudahlah ayo kita pergi dari disini!”
^^^
Keesokannya, setelah aku pergi
dari tempat itu seperti biasa aku sudah berada di tempat itu kembali. Tetapi
sayangnya aku tidak melihat sosok lelaki itu di tempat seperti biasanya ia
duduk. Tempat di mana orang yang sangat ia cintai berdiri tegak menghadap senja
tenggelam di cakrawala.
Sepi.
Begitu keadaan suasana tempat
itu. Tak ada seorang pun yang berlalu lalang di sana. Begitu juga dengan pigura yang berada di samping
kotak ajaib berkapasitas tekhnologi modern. Pigura itu tampak berdebu seperti
tak terawat. Padahal baru sehari lelaki itu meninggalkan tempat itu.
Kemana ya lelaki itu? Atau,
jangan-jangan ia jatuh sakit. Sakit malarindu kepada kekasihnya itu. Perempuan
yang ada di pigura berdebu itu. Kasihan lelaki itu jika sampai terjadi. Betapa
merananya dirinya karena merasa bersalah kepada orang yang amat dicintainya
hingga ia jatuh sakit. Terkapar tak berdaya. Kasihan….
Kucari kau kucari. Kucari
kau dikelengangan malam…1.
Di setiap sudut tempat aku
terus mencari lelaki itu. Dari tempat yang satu ke tempat yang lain aku terus
mencarinya. Lama. Tapi tetap tak menemukan sosoknya itu.
“Sudahlah, kalau memang tak
bertemu dengan lelaki itu kita pergi saja dari sini. Mungkin besok kita kembali
saja ke tempat ini.” Akhirnya kupertimbangkan usulnya itu agar aku bisa mencari
lelaki itu keesokannya. Dan apa yang dikatakannya aku pun menurutinya. Namun
saat aku akan meninggalkan tempati itu tiba-tiba aku melihat sepucuk surat
jatuh dari atas tempat pigura itu.
“Tunggu! Tunggu! Aku melihat
sepucuk surat tertiup angin jatuh di lantai. Siapa tahu kita bisa mengetahui
dari surat itu. Dimana sekarang lelaki itu berada.”
“Benar. Benar. Ini tulisan
lelaki itu. Coba kau baca apa yang ia tulis. Aku ingin tahu apa yang
ditulisnya.” Kali ini dirinya agak sedikit melemah. Biasanya aku sering silih
paham dengannya. Tepi entah angin mana yang masuk ke tubuhnya tiba-tiba dirinya
bisa melunak seperti itu. Aku juga heran! Tapi tak mengapalah toh aku dan
dirinya sekarang bisa bersama-sama menolong lelaki yang sedang menaruh rindu
kepada kekasihnya.
Bersama surat ini
kukirimkan sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan
cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap
senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet
batu karang, dan barangkali juga perahu lewat dikejauhan. Maaf, aku tidak sempat
menelitinya satu-persatu. 2
Tentunya, ini bukanlah
sepotong senja yang dimasukan ke dalam amplop untuk seorang kekasih bernama
Alina. Memang ada angin, debur ombak di senja yang kulihat kini. Tapi seperti
sudah kubilang tadi, tak ada lagi mentari, karena ia telah tergelincir jatuh
dalam dekapan malam. Langit pun tak sepenuhnya berwarna keemasan seperti senja
milik Sukab tapi nila. Tak ada burung atau perahu seperti senja yang dikirimkan
Sukab pada Alina.3
“Romantis sekali surat yang
ditulis lelaki itu. Sampai-sampai kau kalah romantis dengannya,” sindirnya.
Aku tak mau kalah dengannya! ”Kalau
aku tidak romantis mana mungkin aku bisa mendapatkan kau…” Kataku membela diri.
Kini dirinya tak bisa berkata-kata lagi. ”Sudahlah, sekarang bagaimana kita
menyampaikan surat ini kepada nama perempuan yang disebutkan lelaki itu dalam
surat itu,” lanjutku menanyakan kepadanya.
“Ya, sudah bawa saja
surat itu! Besok kita sampaikan saja kepada perempuan yang ada dalam surat itu.
Aku jadi penasaran terhadapnya. Kenapa si lelaki begitu merindukannya. Apakah
dia lebih cantik dan istimewa dibanding aku. Hmmm…membuat aku makin
penasaran saja dibuatnya.”
“Ya, jelas saja cantikan kau
dibanding wanita dalam surat itu. Kalau kau tidak cantik buat apa aku mendekati
kau. Kau ini ibarat bidadari buat aku,” kataku menggombal hingga membuat raut
mukanya bersemu.
“Dasar lelaki gombal!” sambil
lari mengambil surat dari genggaman tanganku dirinya menggodaku untuk membalas
mengerjarnya. Semakin cepat dirinya mengejarku semakin aku dimabuk kepayang kepadanya.
“Hei, tunggu jangan lari dulu.
Kukejar kau sampai dapat!” Akhirnya aku pun saling berkejar-kejaran di hamparan
rerumputan menghijau. Layaknya aktor film Bollywood aku pun terus mengejar
dirinya sambil mendendangkan tembang favoritku. Hingga rerumputan terhampar luas
kutak merasakannya. Mungkin inilah yang disebut sedang kasmaran. Tapi apakah
aku pantas kasmaran dengan dirinya, gumamku.
“Jangan melamun saja bisanya!
Kejar aku lagi cepat kalau kau bisa! Sekarang surat ini sudah ada ditanganku.
Ayolah kejar aku lagi.” Aku terus digoda olehnya tiada henti.
“Tunggu saja! Akan kukejar kau
sampai ke ujung dunia.”
Aku pun terus mengejarnya
hingga surat itu berhasil aku raih kembali ke tanganku.
^^^
Seusai aku berhasil meraih
surat itu kembalin kini aku sudah berada di depan teras rumah perempuan dalam
surat yang aku bawa. Dengan mengedap-edap, perlahan-lahan aku memasuki teras
rumah perempuan itu. Kulihat keadaan rumahnya tampak sepi. Tak ada seorang pun
yang ada di rumah itu. Aku bingung tak tahu bagaimana cara menyampaikan surat
ini. Sedangkan lelaki itu sedang sangat menanti kekasihnya melalui surat yang belum
sempat ia kirimkan.
“Itulah lelaki rasa
kepekaannya sangat tipis. Buat apa dibuat bingung. Toh, letakan saja di atas
meja depan terasnya. Kan beres!!”
Aku dibuatnya mati kutu saat
aku sedang kelimpungan menaruh surat yang aku bawa sejak tadi. Akhirnya sambil
mengendap-endap aku pun berhasil meletakan surat itu di atas meja di depan
teras rumah perempuan itu. Depan teras. Ya, tempat ia menunggu kehadiran lelaki
yang selama ini terlalu egois yang kini tergeletak tanpa daya di ruang 4×4
meter. Betapa merananya lelaki itu. Halnya perempuan yang aku lihat saat itu.
Ia sedang kembali menunggu kekasihnya di teras rumahnya.
”Lihat-lihat perempuan itu
mulai melirik surat yang aku taruh di atas meja kecil itu.” Dengan suka-cita
aku memberitahukannya.
”Sudahlah jangan berisik! Kita
lihat saja apa yang akan dilakukan perempuan itu terhadap surat itu,” kembali
ia menjawab dengan penuh keprihatinan terhadap perempuan itu. Apakah begitu
hati setiap perempuan terhadap sesamanya seakan-akan ikut merasakan pula? Hmm…, sentimel sekali makhluk perempuan itu, ya?
”Apa kau bilang begitu terhadap
kaumku!”
”Ah, tidak, kok! Sudah-sudah
aku tak mau membahas itu lagi. Tapi yang kita lakukan bagaimana kita
menyampaikan hal ini ke pada lelaki itu yang merana karena keegoisannya itu.”
”Lihat-lihat perempuan mulai membaca surat yang aku letakan
itu.”
Bersama surat ini
kukirimkan sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan
cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap
senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet
batu karang, dan barangkali juga perahu lewat dikejauhan. Maaf, aku tidak
sempat menelitinya satu-persatu.
Tentunya, ini bukanlah
sepotong senja yang dimasukan ke dalam amplop untuk seorang kekasih bernama
Alina. Memang ada angin, debur ombak di senja yang kulihat kini. Tapi seperti
sudah kubilang tadi, tak ada lagi mentari, karena ia telah tergelincir jatuh
dalam dekapan malam. Langit pun tak sepenuhnya berwarna keemasan seperti senja
milik Sukab tapi nila. Tak ada burung atau perahu seperti senja yang dikirimkan
Sukab pada Alina.
Ajaib! Perempuan itu menitikan
airmata smabil tangannya itu sedang mengelus-elus perut buncitnya.
”Astaga ternyata perempuan itu
hamil!” pekikku ketika aku mulai menyadari kalau perempuan itu sedang
membuncit.
”Bagaimana kita menyampaikan
kepada lelaki itu. Kalau kenyataannya perempuan itu telah hamil.” Aku kembali
dibuat linglung oleh keadaan.
”Coba-coba kau dengarkan apa
kata perempuan itu terhadap bayi yang berada di dalam perutnya itu.” Aku
disuruh olehnya untuk mendengarkan perkataan perempuan yang sedang berbicara kepada
makhluk hidup yang bersemayam di rahim perempuan itu.
”Nak, walau kau tak tahu siapa
Ayahmu aku tetap bahagia memiliki kau, Nak. Memang selama ini aku tak tahu
siapa Ayahmu. Tapi aku tahu khas bau yang pernah ia taburkan ke tubuhku. Ya,
baunya seperti ini Nak. Atau, Ayahmu telah datang, Nak!”
Aku diam. Tak ada kata yang
terucap. Kulihat mata
elangnya mulai membidikku.
Ulujami,15
Juni 2009.
Masih di
kamar penuh inspirasi
Keterangan:
1.
Dikutip dari salah satu kumpulan cerpen, Bukavu
karya Helvy Tiana Rosa
2.
dan 3 dikutip dari salah satu cerpen Seno Gumira Adjidarma berjudul Sepotong
Senja Untuk Pacarku