(cure heart) Momentum Maintenance

Minggu, 9 Mei, 2010 06:47 Dari: “aki awan” <internalisasi@yahoo.com>

Cure Heart = Curhatlagi kepingin curhat…..
*****
Mereka tidak memakai
Batu Raja milik Kotaro Minami, dan melafadzkan “Mantera Aji” untuk berubah
menjadi Satria Baja Hitam. Atau melambai lambaikan tongkat Sailormoon..

Atau..

Meminum segelas Ramuan
Polyjus buatan Hermonie Granger, yang dicampur rambutnya Haji Abdul  Malik Karim Amrullah, Asma Nadia, Albert
Einstein, Ibnu Sina, Nicholas Saputra. Dan lain lain..

Biar
semua keahlian mereka nyampur..

(bukannya
ramuan polyjus Cuma untuk merubah bentuk?!)

Ada yang terhenyak dengan
seminar sehari, Mabit, Persami, dan sejenisnya..

Atau Leadership
Training  semingguan, Latihan Brigade
semingguan, Workshop, dan pelatihan pelatihan sepekan, dan sebulanan..

Instrument momentum
demikian, pasti kita butuhkan..

Ia adalah keran yang
akan menyemburkan air dalam sumbernya yang terpendam. Ia adalah Gerbang, Ia
adalah tutup Botol yang akan membuka dirinya, untuk diisi, dan untuk
dikeluarkan. .

Tapi kemudian, akan
seberapa efektifkah  trigger, impuls,
lonjakan motivasi yang baru saja terbangun tadi!?  Dan bertahan berapa lama! Sehari, sebulan?

Maka, kegiatan
memaintain, menjadi langkah penting selanjutnya.

Adalah seorang murid Darosah
Al Qur’an yang mengambil kelas Tahfidz, untuk berjalan berkilo meter, menemui
sang guru, untuk mendapat sedikit nasihat, dan menyetorkan hafalannya..

Adalah komunitas Cina,
yang turun temurun menjadikan Bisnis, Enterpreneur sebagai kajian gosipnya..

Adalah juga Urang Awak
yang demikian..

Atau di India, betapa
Bioskop laris dilevel ekonomi manapun disana, sehingga aktor dan artis
bermunculan deras atasnya..

Karena itulah, Rasulullah
kemudian memperkenalkan instrument perbaikan yang bernama Hijrah, dalam arti
harfiah, atau secara hakikat..

Mereka hijrah dari room
Chatting Jakarta 7, ke milist Menulis (pembacaasmanadia, Red)..

Mereka hijrah dari
obrolan betapa nikmatnya menjadi PNS, kepada obrolan perniagaan..

Mereka hijrah dari
jrang jreng gigitaran, menuju senandung Qiro’ah di mushala..

Karena
itulah  naiknya kadar keimanan, juga
seiring dengan naiknya intensitas amal, semakin sering seorang melakukan
Ibadah, semakin tebal rasa nikmat atas keimannanya. Sebaliknya semakin sering
seorang melakukan maksiat, semakin sulit, semakin hambar rasa iman didadanya..

Menjaga motivasi,
menjaga semangat..

Adalah pekerjaan
kolektif, yang sangat sulit dilakukan sendirian, kalaulah ada yang berhasil
sendirian, sesungguhnya mereka tak benar benar sendirian..

Mereka dijaga oleh
banyaknya buku yang mereka lahap, terus menerus sepanjang hidupnya.

Atau dari bait bait
kerusakan dunia dalam kabar beritanya  yang selalu ditiupakan sepoy angin
megapolitan. .

Momentum DAN
maintenance. .

Dalam hari hari biasa
mereka, mereka memakai momentum untuk meloncat, dan maintenance sebagai fitur
pendaratan..

Mereka  memakai Maintenance sebagai biduk, dan
Momentum sebagai jeram..

Mereka tak menyepelekan
Momentum, apalagi meninggalkan Maintenance.

Mari, kita galang
bersama, komunitas milist asmanadia, yang dapat menjaga semangat, dan motivasi
kita bersama, semangat menulis, semangat bermanfaat, semangat beribadah..

Merdeka!

(sekian curhatan Lebay
aki aki! Never Mind, Realy..)

RINDU DALAM SEPUNCUK SURAT

Jumat, 4 Desember, 2009 07:25
Dari:
“bujang kumbang” <bujangkumbang@yahoo.co.id>

Tambahkan Pengirim ke Kontak

Kepada:
Rindu Dalam Sepucuk Surat

                                         Penjaga hati

 

Dengan menaruh dendam rindu di
gumpalan benaknya kulihat lelaki itu begitu gundahnya kepada seseorang.
Seseorang yang begitu amat dan sangat ia cintai dari hidupnya.

 

Entah, kenapa ia bisa begitu
gundah aku juga tak tahu. Tapi ketika aku lihat dari raut wajahnya menampakan
bahwa ia sangat merasa bersalah kepada orang yang amat sangat ia cintai
melebihi dari hidupnya. Tak lain kekasihnya yang ditinggal pergi olehnya. Meninggalkan
tanpa sedikit pun memikirkan hati kekasihnya itu. Ia telah berlaku egois!

 

“Ya, begitulah sifat lelaki
tidak mempedulikan perasaan perempuan. Terlalu mau menang sendiri!”

 

“Lho…lho, kok, aku sih yang
dibawa-bawa. Aku ini lelaki setia tidak seperti lelaki itu,” sergahku. Membela
diri.

 

“Iya sih setia tapi….setia
setiap tikungan!”

 

“Hussst…kalau bicara
jangan asal goblek saja, kau. Sudah lihat lagi ke arah lelaki itu. Ssstttt…coba
lihat sedang apalagi lelaki itu.” Kuarahkan lagi ekor mataku ke arah lelaki
itu. Ternyata ia sedang menatap tajam ke sebuah pigura kecil berukiran
mengombak. Pigura yang di dalamnya terdapat poto seorang perempuan yang amat ia
cintai menghadap senja tenggelam. Ia amat menaruh rindu kepada perempuan dalam
pigura itu.

 

“Sudah, ah, aku sudah tak
tertarik lagi melihat lelaki itu. Ayolah, katanya kamu ingin mengajak aku window
shoping. Aku tak mau lho kalau sampai kehabisan sale di Melawai.
Cepatan, ah, aku tak mau sampai kehabisan. Sudahlah aku tak mau kau sampai
seperti lelaki itu.”

 

“Baik. Baik, akan aku turuti
permintaan kau tapi dengan syarat besok kau temani aku di tempat ini kembali, bagaimana?”
tawarku kepadanya.

 

“Iya, iya! Kau kalau lagi ada
maunya bisa-bisanya memaksa. Sudahlah ayo kita pergi dari disini!”

 

^^^

 

Keesokannya, setelah aku pergi
dari tempat itu seperti biasa aku sudah berada di tempat itu kembali. Tetapi
sayangnya aku tidak melihat sosok lelaki itu di tempat seperti biasanya ia
duduk. Tempat di mana orang yang sangat ia cintai berdiri tegak menghadap senja
tenggelam di cakrawala.

 

Sepi.

 

Begitu keadaan suasana tempat
itu. Tak ada seorang pun yang berlalu lalang di sana. Begitu juga dengan pigura yang berada di samping
kotak ajaib berkapasitas tekhnologi modern. Pigura itu tampak berdebu seperti
tak terawat. Padahal baru sehari lelaki itu meninggalkan tempat itu.

 

Kemana ya lelaki itu? Atau,
jangan-jangan ia jatuh sakit. Sakit malarindu kepada kekasihnya itu. Perempuan
yang ada di pigura berdebu itu. Kasihan lelaki itu jika sampai terjadi. Betapa
merananya dirinya karena merasa bersalah kepada orang yang amat dicintainya
hingga ia jatuh sakit. Terkapar tak berdaya. Kasihan….

 

Kucari kau kucari. Kucari
kau dikelengangan malam…1.

 

Di setiap sudut tempat aku
terus mencari lelaki itu. Dari tempat yang satu ke tempat yang lain aku terus
mencarinya. Lama. Tapi tetap tak menemukan sosoknya itu.

 

“Sudahlah, kalau memang tak
bertemu dengan lelaki itu kita pergi saja dari sini. Mungkin besok kita kembali
saja ke tempat ini.” Akhirnya kupertimbangkan usulnya itu agar aku bisa mencari
lelaki itu keesokannya. Dan apa yang dikatakannya aku pun menurutinya. Namun
saat aku akan meninggalkan tempati itu tiba-tiba aku melihat sepucuk surat
jatuh dari atas tempat pigura itu.

 

“Tunggu! Tunggu! Aku melihat
sepucuk surat tertiup angin jatuh di lantai. Siapa tahu kita bisa mengetahui
dari surat itu. Dimana sekarang lelaki itu berada.”

 

“Benar. Benar. Ini tulisan
lelaki itu. Coba kau baca apa yang ia tulis. Aku ingin tahu apa yang
ditulisnya.” Kali ini dirinya agak sedikit melemah. Biasanya aku sering silih
paham dengannya. Tepi entah angin mana yang masuk ke tubuhnya tiba-tiba dirinya
bisa melunak seperti itu. Aku juga heran! Tapi tak mengapalah toh aku dan
dirinya sekarang bisa bersama-sama menolong lelaki yang sedang menaruh rindu
kepada kekasihnya.

 

Bersama surat ini
kukirimkan sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan
cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap
senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet
batu karang, dan barangkali juga perahu lewat dikejauhan. Maaf, aku tidak sempat
menelitinya satu-persatu. 2

 

Tentunya, ini bukanlah
sepotong senja yang dimasukan ke dalam amplop untuk seorang kekasih bernama
Alina. Memang ada angin, debur ombak di senja yang kulihat kini. Tapi seperti
sudah kubilang tadi, tak ada lagi mentari, karena ia telah tergelincir jatuh
dalam dekapan malam. Langit pun tak sepenuhnya berwarna keemasan seperti senja
milik Sukab tapi nila. Tak ada burung atau perahu seperti senja yang dikirimkan
Sukab pada Alina.3

 

“Romantis sekali surat yang
ditulis lelaki itu. Sampai-sampai kau kalah romantis dengannya,” sindirnya.

 

Aku tak mau kalah dengannya! ”Kalau
aku tidak romantis mana mungkin aku bisa mendapatkan kau…” Kataku membela diri.
Kini dirinya tak bisa berkata-kata lagi. ”Sudahlah, sekarang bagaimana kita
menyampaikan surat ini kepada nama perempuan yang disebutkan lelaki itu dalam
surat itu,” lanjutku menanyakan kepadanya.

 

“Ya, sudah bawa saja
surat itu! Besok kita sampaikan saja kepada perempuan yang ada dalam surat itu.
Aku jadi penasaran terhadapnya. Kenapa si lelaki begitu merindukannya. Apakah
dia lebih cantik dan istimewa dibanding aku. Hmmm…membuat aku makin
penasaran saja dibuatnya.”

 

“Ya, jelas saja cantikan kau
dibanding wanita dalam surat itu. Kalau kau tidak cantik buat apa aku mendekati
kau. Kau ini ibarat bidadari buat aku,” kataku menggombal hingga membuat raut
mukanya bersemu.

 

“Dasar lelaki gombal!” sambil
lari mengambil surat dari genggaman tanganku dirinya menggodaku untuk membalas
mengerjarnya. Semakin cepat dirinya mengejarku semakin aku dimabuk kepayang kepadanya.

 

“Hei, tunggu jangan lari dulu.
Kukejar kau sampai dapat!” Akhirnya aku pun saling berkejar-kejaran di hamparan
rerumputan menghijau. Layaknya aktor film Bollywood aku pun terus mengejar
dirinya sambil mendendangkan tembang favoritku. Hingga rerumputan terhampar luas
kutak merasakannya. Mungkin inilah yang disebut sedang kasmaran. Tapi apakah
aku pantas kasmaran dengan dirinya, gumamku.

 

“Jangan melamun saja bisanya!
Kejar aku lagi cepat kalau kau bisa! Sekarang surat ini sudah ada ditanganku.
Ayolah kejar aku lagi.” Aku terus digoda olehnya tiada henti.

 

“Tunggu saja! Akan kukejar kau
sampai ke ujung dunia.”

 

Aku pun terus mengejarnya
hingga surat itu berhasil aku raih kembali ke tanganku.

^^^

 

Seusai aku berhasil meraih
surat itu kembalin kini aku sudah berada di depan teras rumah perempuan dalam
surat yang aku bawa. Dengan mengedap-edap, perlahan-lahan aku memasuki teras
rumah perempuan itu. Kulihat keadaan rumahnya tampak sepi. Tak ada seorang pun
yang ada di rumah itu. Aku bingung tak tahu bagaimana cara menyampaikan surat
ini. Sedangkan lelaki itu sedang sangat menanti kekasihnya melalui surat yang belum
sempat ia kirimkan.

 

“Itulah lelaki rasa
kepekaannya sangat tipis. Buat apa dibuat bingung. Toh, letakan saja di atas
meja depan terasnya. Kan beres!!”

 

Aku dibuatnya mati kutu saat
aku sedang kelimpungan menaruh surat yang aku bawa sejak tadi. Akhirnya sambil
mengendap-endap aku pun berhasil meletakan surat itu di atas meja di depan
teras rumah perempuan itu. Depan teras. Ya, tempat ia menunggu kehadiran lelaki
yang selama ini terlalu egois yang kini tergeletak tanpa daya di ruang 4×4
meter. Betapa merananya lelaki itu. Halnya perempuan yang aku lihat saat itu.
Ia sedang kembali menunggu kekasihnya di teras rumahnya.

 

”Lihat-lihat perempuan itu
mulai melirik surat yang aku taruh di atas meja kecil itu.” Dengan suka-cita
aku memberitahukannya.

 

”Sudahlah jangan berisik! Kita
lihat saja apa yang akan dilakukan perempuan itu terhadap surat itu,” kembali
ia menjawab dengan penuh keprihatinan terhadap perempuan itu. Apakah begitu
hati setiap perempuan terhadap sesamanya seakan-akan ikut  merasakan pula? Hmm…, sentimel sekali makhluk perempuan itu, ya?

 

”Apa kau bilang begitu terhadap
kaumku!”

 

”Ah, tidak, kok! Sudah-sudah
aku tak mau membahas itu lagi. Tapi yang kita lakukan bagaimana kita
menyampaikan hal ini ke pada lelaki itu yang merana karena keegoisannya itu.”

 

”Lihat-lihat perempuan mulai membaca surat yang aku letakan
itu.”

 

Bersama surat ini
kukirimkan sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan
cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap
senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet
batu karang, dan barangkali juga perahu lewat dikejauhan. Maaf, aku tidak
sempat menelitinya satu-persatu.

 

Tentunya, ini bukanlah
sepotong senja yang dimasukan ke dalam amplop untuk seorang kekasih bernama
Alina. Memang ada angin, debur ombak di senja yang kulihat kini. Tapi seperti
sudah kubilang tadi, tak ada lagi mentari, karena ia telah tergelincir jatuh
dalam dekapan malam. Langit pun tak sepenuhnya berwarna keemasan seperti senja
milik Sukab tapi nila. Tak ada burung atau perahu seperti senja yang dikirimkan
Sukab pada Alina.

 

Ajaib! Perempuan itu menitikan
airmata smabil tangannya itu sedang mengelus-elus perut buncitnya.

 

”Astaga ternyata perempuan itu
hamil!” pekikku ketika aku mulai menyadari kalau perempuan itu sedang
membuncit.

 

”Bagaimana kita menyampaikan
kepada lelaki itu. Kalau kenyataannya perempuan itu telah hamil.” Aku kembali
dibuat linglung oleh keadaan.

 

”Coba-coba kau dengarkan apa
kata perempuan itu terhadap bayi yang berada di dalam perutnya itu.” Aku
disuruh olehnya untuk mendengarkan perkataan perempuan yang sedang berbicara kepada
makhluk hidup yang bersemayam di rahim perempuan itu.

 

”Nak, walau kau tak tahu siapa
Ayahmu aku tetap bahagia memiliki kau, Nak. Memang selama ini aku tak tahu
siapa Ayahmu. Tapi aku tahu khas bau yang pernah ia taburkan ke tubuhku. Ya,
baunya seperti ini Nak. Atau, Ayahmu telah datang, Nak!”

 

Aku diam. Tak ada kata yang
terucap. Kulihat mata
elangnya mulai membidikku.

 

 

 

Ulujami,15
Juni 2009.

Masih di
kamar penuh  inspirasi

 

 

Keterangan:

1.     
Dikutip dari salah satu kumpulan cerpen, Bukavu
karya Helvy Tiana Rosa

2.
dan 3 dikutip dari salah satu cerpen Seno Gumira Adjidarma berjudul Sepotong
Senja Untuk Pacarku

 

Sulitnya cari orang amanah zaman sekarang

Sabtu, 5 Desember, 2009 02:52
Dari:
“fitri laily” akhwatpisan@yahoo.com
“pembacaasmanadia” <pembacaasmanadia@yahoogroups.com>
 

Mencari orang amanah zaman sekarang???

 

Teringat pembicaraan ke suami subuh tadi, perihal pembagian
daging kurban di tempatku bekerja.

Mirisnya hati ini melihat betapa banyaknya yang sudah dzolim
ke saudaranya sendiri demi daging 1kg.

Setauku perusahaan tempatku bekerja, tahun ini berkurban
1ekor sapi dan 7ekor kambing. Tapi…tidak semua karyawan kebagian. Dengan alasan
panitia ‘daging kurban hanya dibagikan bagi yang sudah berumah tangga saja’.

Tapi menurut ketua panitia, tidak ada peraturan seperti itu.
(setelah dikroscek kemarin)

“Malah banyak yang ngambil dobel jatah dagingnya teh…”.ucap
salah sorang kawan.

Kasihan….

Hanya demi 1kg daging tega mendzolimi saudaranya. Membiarkan
saudaranya berandai-andai (berharap) hari itu bisa makan daging.

Dimanakah amanah kalian wahai para panitia kurban??

Dimanakah hati kalian yang telah tega mendzolimi saudaranya
demi 1kg daging??

 

Semoga Allah SWT mengampuni dosa kalian dan mudah-mudahan
Allah SWT membukakan pintu rejeki yang lebar bagi kalian.

Amiin…

 

 

Rumah Cinta, 30 November 2009

Pukul 10.15 pagi

Masih kesel dengan kejadian itu sembari ditemani sepiring
indomie goreng.

Wuiiihh…mak nyuss.hehehehe

Pemikiran Wanita Sederhana

pegiani puspo pranoto” <p36ol@yahoo.co.id
Waktu sedang menjemur pakaian, gak sengaja nguping pembicaraan tetangga. Dosa gak ya? :P Dari yang kutangkap dan simpulkan, ternyata jauh juga ya pemikiran orang-orang yang “sederhana” dengan orang-orang yang lebih “modern” (kaya’ diriku? Masa’ sich?)

Sederhana di sini bukan dilihat dari segi materi yang diutamakan. Tapi dilihat dari segi pemikiran. Waktu itu, si Mbak tetangga ini (sebut aja Mama Putra) bilang, , “Saya kerja juga kan buat jaga-jaga kalo bapaknya (suami) lagi gak kerja.” Suaminya memang hanya sebagai kuli proyek fly over yang sedang dibangun. Sedangkan Mama Putra sendiri seorang buruh pabrik.

Beda banget kan sama pemikiran-pemikiran yang jauh lebih canggih. Karena menurutku, Mama Putra dan mungkin wanita-wanita “sederhana” lainnya hanya berpikir mereka harus bekerja untuk membantu para suami yang berpendapatan tak menentu. Mereka harus bekerja untuk menghidupi anak-anak mereka, untuk menjaga agar dapur tetap mengepul.

Sedangkan wanita-wanita “modern” lainnya. Memilih bekerja untuk mengejar karir atau biar bisa jajan dengan hasil keringat sendiri di luar gaji suami. Kasarnya, “Kalo gw punya penghasilan sendiri kan, gw bisa belanja sebanyak yang gw suka.” Itu kata salah satu teman “modern” ku. Bahkan ada juga yang bilang, “Kalo kita kerja, trus kalo misalnya suami macem-macem, ya gak terlalu dipikirin-lah. Kan udah punya penghasilan sendiri.” Wadow, ini kaya’nya lebih gaswat deh.

Aku jadi bercermin, kadang wanita-wanita “sederhana” itu hidupnya mungkin lebih bahagia karena tidak memikirkan materi yang berlebihan. Mereka sepertinya jadi lebih sayang keluarga. Karena menurut mereka, keluarga lebih penting daripada materi. Wanita-wanita “modern” juga tidak sepenuhnya buruk. Aku juga gak bilang mereka gak sayang keluarga. Mereka lebih banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman. Mereka lebih mengerti teknologi, walaupun ada beberapa yang harus mengenyampingkan dunia masak-memasak mereka untuk kepentingan pribadi. Maksudnya, walaupun wanita “modern” ini mengerti segalanya, belum tentu mereka mengerti bagaimana cara menumis, merebus bahkan mengiris bawang :D Mereka pasti akan berpikir, “Sekarang kan sudah banyak bumbu racikan”, “Kan sekarang sudah ada magic jar” atau “Restoran banyak, warteg ada, rumah makan Padang apalagi, ngapain repot-repot masak?” (Loh kok malah ngelantur ya? :D )

Ternyata, banyak juga pe-er ku. Harus menjadi wanita “modern” yang tidak boleh melupakan keluarga. Thanks to Mama Putra, yang sudah membuka pikiran dan menyadarkanku. Bahwa se-modern-modern- nya wanita, tidak boleh melupakan kodratnya sebagai wanita yang “sederhana” dan bersahaja.

“Discipline With Love”

with love

with love

Dari:  ”Regina Kuntjoro-Jakti” <regina_adiati@yahoo.com>

Sekedar sharing, beberapa minggu lalu di parenting class kita kedatangan Narasumber Ms. Carrie Rudijanto,seorang pendidik dan pemilik kursus English di Bdg.

“Discipline With Love”

Menerapkan disiplin pd anak?! Hhmm susah-susah gampang gitu loh… Ditanya tentang makna “disiplin” dalam kalimat singkat , yang terlintas di pikiran ibu-ibu menjawab beragam, ada yang bilang :
- banyak aturan
- harus ditaati oleh anak
- tata tertib
- ada sanksi
- peraturan yang kudu dijalankan
dan lain-lain kayanya….

Disiplin jangan dianggap sebagai “Monster Menakutkan” buat sang anak! Bagaimanapun disiplin itu penting dalam kehidupan kita para ortu maupun anak kita. Jangan jadikan disiplin sebagai momok,ancaman atau bikin trauma pada sang anak. Kalau ortu dengan paksaan menerapkan aturan “atas nama disiplin”, sudah kebayang respon anak bakal bete malah mungkin jadi membangkang kepada ortunya!! Nggak mau kan…?!

Menurut Ms. Carrie, “Disiplin” bisa diterapkan dengan penuh cinta,kasih sayang dan damai, nggak pakai perang mulut atau perang urat seperti yang biasa terjadi di antara kita. Penerapan “Disiplin dengan Cinta” bisa lancar mencapai tujuan asal tahu caranya!

Menerapkan kedisiplinan dalam 1 kelurga juga membutuhkan KEKOMPAKAN sikap ayah dan ibu yang benar-benar harus 1 suara, karena bila tidak kompak, sang anak akan bingung. Mengapa ibu bilang, tidak apa-apa, sementara ayah menjadi suatu masalah saat anak melakukan sesuatu. Ke”Kompak”an AYAH-IBU menjadi unsur penting dalam penerapan disiplin tersebut. Kekompakan yang dilakukan haruslah KONSISTEN.

Menurut Ms. Carrie, saat kita menerapkan suatu ke”disiplin”an pada anak2 kita, maka kita harus mengerti dan memahami “MAKNA” dari Disiplin tersebut, selanjutnya menerangkannya kepada anak kita. Jangan sampai kita semangat menerapkan disiplin, sementara anak kita boro-boro mengerti! Anak harus mengerti dan punya pemahaman yang SAMA dengan orang tuanya tentang apa “Disiplin” itu.

Menurut Ms. Carrie, DISIPLIN itu isinya pemahaman tentang : 
1. Right from Wrong;
2.The right of other people;
3.Which behaviour is acceptable and un-acceptable.

Saat kita bicarakan pada anak kita tentang penerapan disiplin, maka anak sudah harus mengerti 3 butir isi DISIPLIN yang dipaparkan di atas! Sebagai ORTU, kita wajib menerangkan dan memberikan contoh/teladan dari sikap “Disiplin” tersebut. Untuk itu CARA KOMUNIKASI dengan anak sangat memegang peranan penting!

Ortu harus menjelaskan kepada anak, sesuatu yang BENAR dan sesuatu yang SALAH. Harus JELAS bedanya, mana penerapan yang BENAR “berbeda” dengan yang SALAH. Misalkan, saat sang anak menaruh tas sekolahnya di kamar dengan baik, maka jelaskan itu sesuatu sikap yang Benar. Sedangkan saat anak menggeletakkan tasnya begitu saja di ruang keluarga, sang anak harus tahu, sikap itu Salah. 

Ortu harus jelaskan sikap yang merupakan HAK sang anak, juga sikap bagaimana yang BUKAN merupakan HAK sang anak. Misalkan, saat anak memainkan boneka miliknya maka itu adalah HAK anak tersebut. Namun bila anak memainkan boneka sepupunya tanpa ijin atau merebutnya, maka sikap tersebut merupakan BUKAN HAK anak tersebut.

Sikap yang dapat diterima (Acceptable Behaviour) adalah sikap yang membuat dia sendiri merasa nyaman juga lingkungannya, tanpa ada protes/keberatan dari pihak lain. Hal ini pun harus dijelaskan pada anak dengan baik. Misalnya, pada saat di kelas, Ria menggambar dengan menggunakan perlengkapan gambar miliknya sendiri sehingga dia nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan teman lainnya. Itulah “Acceptable Behaviour”. Sebaliknya, bila Ria menggambar dengan crayon milik Aya namun Ria meminjam crayon tanpa ijin dan memberitahukan Aya, maka sikap itu menjadi “Un-acceptable Behaviour”, karena Aya menjadi terganggu di saat Aya akan memakai crayon, tapi ternyata crayon sedang dipinjam Ria. Namun bila Ria meminjamnya dengan ijin lebih dahulu pada Aya, maka sikap “Un-acceptable Behaviour” bisa berubah menjadi “Acceptable Behaviour” dengan syarat Ria sudah ijin pada Aya untuk meminjam dan Aya sudah memberikan ijin.

So, dalam penerapan DISIPLIN antara kita sbg orang tua dengan anak harus :
- ada persamaan persepsi tentang Disiplin;
- ada penjelasan dari ortu terlebih dahulu dan anak mengerti tentang konsep Disiplin;
- ada kesepakatan tentang hal-hal terkait dalam penerapan disiplin (misal: tentang adanya punishment saat anak tidak menepati janjinya, melakukan hal di luar ketentuan disiplin yang sudah disepakati).

Bagaimana menerapkan Disiplin dengan Cinta? Setelah kita lalui proses-proses di atas tadi, maka waktunya datang bagi kita sebagai ortu dan anak sepakat melakukan penerapan suatu “Disiplin”, dengan cara ortu AKTIF :
1. Berkomunikasi;
2. Selalu mengingatkan sang anak;
3. Selalu konsisten; 
4. Memberikan pujian saat anak melakukan hal yang positif/baik;
5. Menerapkan sanksi (sesuai kesepakatan)saat anak tidak melakukan yang seharusnya.

Saat orang tua KONSISTEN, maka anak akan MENGERTI akan adanya hal-hal yang bisa mereka prediksi (perhitungkan) yaitu suatu KONSEKUENSI sebagai akibat, saat mereka melakukan suatu tindakan.

The most important part that we always try to apply in practicing discipline is that we do what we do base on LOVE. Maka penerapan disiplin di sini adalah selalu dengan CINTA! Orang tua melakukan ini semua sebagai aplikasi rasa sayang pada sang anak, dengan cara yang baik dan benar…. 

Your chilldren will feel secure…
Your children will feel loved…
Your children will have self confident…
Your children will know how to control their desires and…
Not get overly frustated with common stresses of everyday life.

Aturan Main bagi Ortu adalah :
- peranan ortu pegang peranan penting yang menentukan dalam kehidupan anak, bagaimana anak berperilaku baik atau sebaliknya saat mereka tumbuh dewasa. Ortu adalah sosok “ROLE MODEL” teladan contoh bagi anak-anaknya.
- ortu harus mengerti dan memahami bahwa penerapan DISIPLIN suatu langkah penting dalam pembentukan karakter anak, yang akan semakin kuat saat anak dewasa.
- ortu harus punya KESABARAN yang ekstra dalam menjalankan PERAN ORTU untuk mendidik anak dengan penuh kasih, sayang dan cinta sebagai tanggung jawab ortu terhadap ANAK sebagai TITIPAN ILLAHI. 

Siap tidak siap… Hhmmm yah peran ORTU sudah melekat pada diri kita! Maka sikap kita secepatnya menyatakan SIAP! Peran dan tanggung jawab ORTU terhadap ANAK bagaimanapun TIDAK BISA DIALIHKAN pada orang lain! Anak pun tidak bisa menunggu ortu-nya merasa siap, karena hidup sang anak sudah dimulai…. Jangan sampai terlambat “menjadi teladan” yang baik dan benar bagi anak kita, apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita tuai teman….

Semoga sharing ini bisa menjadi awal pencerahan dan membawa manfaat bagi kita para ortu, supaya dapat segera mengambil sikap, well we are the ROLE MODEL for our children! Tetap semangat teman….

Regina
Bandung, 11 April 2009

Sumber :
- Materi Parenting Class narasumber Ms. Carrie Rudijanto
- Buku “Ayah Edy : 37 Kebiasaan Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak”
- Materi Pelatihan Komunikasi Anak Sekolah Mutiara Bunda

Sharing : Allah Maha Tahu saat yang tepat

Dari:

Assalamu’alaikum,

Sharing sedikit suasana hati saat ini, juga sebagai tanda Syukur Saya dan sekeluarga pada pada Allah Sang Maha Kuasa, Maha Tahu saat yang tepat untuk hambanya, Maha penyayang. Tiada keraguan sedikitpun dihati ini atas kuasa sang maha Penyayang, Ilahi Rabbi ALLAH SWT. Diberikan Cobaan untuk kami berfikir, untuk selalu dekat padaNYa. Dan diberikan Kesenangan untuk selalu ingat padaNya.

Kami sekeluarga beberapa bulan belakangan ini berada dalam gejolak yang lumayan membuat emosi turun naik, beberapa masalah datang secara beruntun.

Masalah bisnis yang baru dirintis bersama adik, masalah Bisnis Papa yang mulai menurun dan menanggung hutang yang membuat papa down dan kami anak2nya sempat shock dan marah, kenapa Papa tega membuat kami pusing disaat kami sedang merintis?? masalah Mama dan Papa yang berujung pada perceraian, belum lagi masalah dengan keluarga besar di Padang yg ikut campur.

Sungguh sangat berat untuk kami, semua datang dalam waktu yang bersamaan seperti ditimpa durian runtuh, yang durinya tajam2 pas dibuka isinya kompong dan kebetulan Saya sangat benci durian. Makanya saya tidak suka dengan quote yg mengatakan ” SEPERTI DURIAN RUNTUH” karna durian itu bau dan tidak enak, hehehe… maap bagi yg hobi duren.

Dan imbasnya kepada kami anak2 ( saya dan adik), dan juga kepada keluarga kecil saya karna mau tidak mau suami harus tahu dan ikut serta membantu mencarikan jalan keluar dan tentunya memberikan dukungan moral yang tak sedikit untuk istrinya.

Disaat masalah mama dan papa muncul dan berakhir pada perceraian ortu kami diusia pernikahan mereka yg seharusnya hanya menikmati manisnya hasilnya kerja dimasa muda, menikmati hari tua bersama anak cucu dan menantu, Pedih jika mengingat keadaan ortu saat itu.

Satu keputusan besar yang Saya buat dengan adik yaitu menjaga jarak dengan keluarga besar kami di Padang, kecuali Mama dan Papa, kami punya alasan untuk itu. Bukan memutuskan hubungan silaturahmi. Saudara seiman yg baru kita temui kadang lebih baik drpada saudara sekampung atau sedarah. Semoga fikiran ini salah

makanya saat kembali ke kota padang +-4 bulan yang lalu, berat rasanya kaki ini melangkah ditanah kelahiran itu, karna dihati ini tidak ada yg akan dikunjungi lagi, kecuali kenangan dan bisnis. Perceraian mama dan papa sangat berat bagi kami,… tapi itu harus dihadapi

Allhamdulillah kami bisa melewati masa2 penolakan hati, atas perceraian ortu dg ikhlas. Karna kami yakin inilah yang terbaik bagi mereka juga masa depan mereka ortu kami.

Hmmmm Cukup yaa bermelow mellow ria dengan pembukaan diatas..

kemaren sepulang dari Jogja Adikku mengabarkan bahwa Toko kami mendapatkan Arisan yang lumayan besar untuk menambah modal toko baru kami, dan niatnya duit arisan itu adalah tabungan kami berdua.

Allhamdulillah ya Allah.. karna dalam beberapa bulan ini kami selalu ditawari kredit dari bank-bank mulai dari yang bunga kecil sampai yg besar, tapi ada ada saja yang menghambatnya… ada keraguan dihati kami, diambil atau tidak? karna dari awal memulai bisnis dengan adik, Saya menekankan untuk tidak berhutang yang berbunga.. kalaupun ada setidaknya diminimalisir.

Dan dalam hari yang bersamaan papa menelpon bahwa Tokonya sudah ada yang akan membeli, dengan harga yang cocok dan toko itu bisa disewa oleh papa. Papa menjual Toko itu untuk menutup utangnya, dan karna masih mau berdagang, papa berusaha mencari pembeli yang mau disewa langsung oleh papa. Allhamdulillah.

Nikmat Allah mana lagi yang bisa kami abaikan?? Sangat besar.. Allah mendengarkan doa2 kami.. Allah menyanyangi kami

Aku masih ingat pas di Jogja, tukang becak langganan kami menawarkan 20rb untuk keliling kota, orangnya ramah dan mau main dg Ahza dan yg pasti cocok banget dijadikan Guide krn semua tempat yg direkomendasikannya Bagus dan Mantap.

Saat balik ke penginapan aku memberinya 30rb, tapi oleh suami disuruh tambah, 50 ribu aku sedikit manyun karna kan udah nambahin 10 rb, tapi suami mengingatkan 5O rb bagi kita tidaklah banyak tapi bagi tukang becak itu sangat berharga.

Dan selama di jogja aku selalu diantar oleh siAbang becak sepuas2nya, dan aku dan suami membayarnya lebih dan kadang jika makan siang kami juga mengajak si mas becak dan membelikannya minum.

Pada saat mau pulang, dan perpisahan dg si mas becak, aku masih ingat ucapan si Mas becak ” Terimakasih mama papa ahza, semoga semua urusan Ibu dan bapak lancar dan diberkahi Allah “…

Kami berdua mengamini.. ada harapan dr doa tulus Mas becak ini ntuk masalah yg kuhadapi. Karna terus terang selama di jogja aku sama sekali tidak mau dihubungi oleh mama dan papa dg masalah2 di Padang, kecuali urusan bisnis tokoku, egois memang. Tapi aku ingin menenangkan hati dan fikiran, mencari hikmah dr semua masalh yg kami hadapi. Allhamdulillah ada jalannya.

Dan dari awal mulai bisnis dg Adik, kami sudah berkomitmen mengelurkan hak fakir miskin dr hasil kami, mengingat jerih payah para karyawan2 kami, usaha kami memang masih kecil. Tapi insyaallah dengan usaha dan doa akan besar pada saatnya. Amin

Allhamdulilah setiap ada masalah ada saja jalan keluar yg tidak pernah kami sangka2..
Dan Janji Allah tidak pernah meleset, Allah sangat tahu kapan dan bagaimana caranya dia memberikan jalan keluar untuk hambanya…

Masih banyak hikmah yang ingin kubagi di milis tercinta ini…

Mari saling berbagi untuk mengingatkan Kasih Allah tanpa batas pada hamba-Nya.

Love

Widya