Sabtu, 7 Maret, 2009 02:34
Dari:
“hepi ika hapsari”
SIFAT PEMARAH / ANGER
Seseorang
yang mempunyai sifat pemarah (anger) biasanya bisa marah hanya karena
hal sepele yang biasanya tidak membuat orang lain marah.
Ada 20
persen orang tergolong di sini. Seorang peneliti gigih, dokter Redford,
mendapatkan bahwa orang yang marah sedang memasukkan racun arsenik ke
dalam tubuhnya. Pelan-pelan akan merusak sistem tubuhnya sendiri.
Sebenarnya
inti dari kemarahan adalah adanya rasa benci sebab apa yang terjadi
tidak sesuai dengan keinginan. Teman dari sifat pemarah adalah adalah
sikap yang sinis dan perilaku yang agresif.
Si pemarah merasa
dirinyalah yang paling baik dan benar. Ada pula ahli yang mengatakan
sikap pemarah ini adalah kebiasaan. Sebab sering dipenuhi kehendaknya
jika ia “meledak marah” ketika kecil, jadi berlanjut hingga dewasa.
Redford,
yang juga pemarah, tahu betul dampak negatifnya, terutama untuk
keluarganya, orang-orang yang paling dekat dengan dia. Karena ingin
menyelamatkan keluarganya juga ingin bebas dari nafsu merugikan itu,
dia teliti seluk-beluk marah.
Beberapa sarannya untuk mengurangi marah adalah
1. Buatlah peta kebencian
Untuk
lebih mengerti diri sendiri dan kemarahannya, catatlah dengan teliti
tiap hari pikiran dan perasaan marah yang muncul. Dari dongkol
kecil-kecilan sampai kemarahan yang hebat. Catatlah kapan, mengapa,
bagaimana pikiran dan perasaannya serta apa saja yang menimbulkan
amarah itu. Catatan ini perlu sebagai pola, agar tampak soal apa saja
yang menjadi biang kerok kemarahannya, kapan terjadinya, dan di mana.
Dan apa akibat kemarahannya. Tiap malam catatan ini dinilai kembali dan
dipikirkan cara apa yang lebih baik dilakukan, dan adakah kemajuan jika
diperbaiki.
2 Uji kembali pikiran yang menimbulkan marah
Kalau
Anda memaki-maki di sepanjang jalan yang macet, hasilnya jalanan tetap
macet. Yang bertambah adalah “racun arsenik” dalam tubuh Anda. Tambah
besar dan lama marahnya tambah berat dampak negatif buat diri Anda,
juga buat orang yang duduk di samping Anda.
Ujilah
pikiran dan perasaan Anda, buat apa marah-marah di jalan macet,
bukankah lebih baik memutar kaset dan ikut bernyanyi? Buat apa anak
dimarahi sebab bajunya kena saus tomat. Itu kan lumrah, namanya juga
anak kecil. Untung sendoknya tidak tertelan.
3. Stop
Ini
adalah model Ornstein. Kalau merasa darah sudah naik ke kepala,
sebutlah: Stop. Perlahan-lahan saja kalau di restoran, boleh keras
kalau lagi sendiri. Ini akan mengingatkan si pemarah untuk banting
setir, jangan teruskan jalan penuh ranjau itu. Lalu alihkan pikiran ke
yang lebih produktif. Daripada memarahi anak yang akan ujian, lebih
baik doakan agar ia berhasil. Daripada melotot dan teriak karena rumah
harum karena kue, lebih baik mencoba kue itu dan peluklah sang istri
yang rajin itu.
4. Alihkan perhatian Anda
Thomas
Jefferson bilang, bila Anda marah berhitunglah dari satu sampai sepuluh
sebelum bercakap. Kalau sedang marah sekali, hitung sampai seratus.
Kalau benci pada tokoh politik yang sedang kampanye di layar televisi
dan kuping terasa panas karena marah, alihkan saja televisi ke saluran
lain. Atau berdirilah, makan jeruk dulu di meja makan.
5 Relaksasi
Cari
posisi beristirahat yang enak, tarik napas panjang yang dalam. Tambah
banyak tambah baik dan pikirkan hal-hal yang menyenangkan.
Atau
sebut kata: “tenang-tenang- tenang” berulang kali dengan tarikan napas
panjang. Bagi yang religius lebih mudah, sebab dapat berdoa atau
shalat, ini sangat menenangkan.
6. Belajar mendengarkan
Kekurangan
dari orang pemarah adalah sangat sukar untuk mendengarkan pendapat
orang lain sebab ia merasa pikiran dan pendapatnya adalah yang paling
baik. Sikapnya yang sinis dan siap menyerang tiap pendapat orang lain
yang dicurigai sebagai buruk, membuat dia “tuli” pada kebenaran lawan
bicaranya.
Marah (angry) boleh, tetapi jangan menjadi orang yang mempunyai sifat pemarah (anger).