Senin, 9 Maret, 2009 03:27
Dari:
“Nurul Komalasari” <nurul_komalasari@yahoo.com>
Assalammualaikum Ibu…
Apa kabar ibu hari ini? sehat sajakah? emmm kangen sama ibu padahal januari kemaren baru pulang agak lama di Palembang, tapi dah kangen sama ibu terutama cerewetnya ibu hehehehehe.
Ibu…rentang waktu 26 tahun berada dalam dekapanmu terasa sangat singkat, setelah jauh dari rumah baru kusadari tak ada tempat senyaman rumah, tiada dekapan sehangat pelukanmu bunda.
Ibu… masih kuingat saat aku berusia 4 tahun jatuh dari tempat tidur tingkat, dengan hati-hati engkau jahit daguku yang robek, dengan benang jahit terhalus yang engkau miliki. Alasanmu waktu itu tidak mau membawaku ke rumah sakit “aku bisa mengerjakannya sendiri, nanti kalau dibawa ke rumah sakit pasti memakai benang yang besar, kalau sudah gadis rusak wajah anakku garis-garis cacat bekas jahitan”. Tetapi bukan sekali engkau menjahit lukaku tapi dua kali, hehehehe, yah maafkan aku ibu, terlalu bandel, tanpa sengaja saat bermain sama adik, gunting stainless kecil menancap di pahaku, kejadian itu saat aku kelas 2 SD. Aku ingat hari itu Ibu baru pulang dari dinas malam di rumah sakit, kepasar belanja, ketika lagi masak terjadilah peristiwa naas itu.
Ibu…masih kuingat linangan air matamu saat aku sakit demam berdarah kelas 3 SD, 3 hari sebelum aku dinyatakan positif demam berdarah tetangga rumah kita (alm kak toto) meninggal karena demam berdarah. Kubertanya padamu “Bu..sari akan meninggal juga ya bu, seperti kak toto” engkau menggeleng meyakinkanku bahwa aku akan sembuh, namun kulihat ada garis khawatir dimatamu, aku ingat Ibu rela mengambil cuti dari Rumah Sakit, hanya untuk menjagaku sampai sembuh, memarahiku jika minumku kurang dari 1 liter. Alasanmu, demam berdarah itu belum ada obatnya, dengan banyak cairan yang masuk bisa diharapkan virusnya keluar melalui air seni. Ibu…sampai sekarang aku masih ingat saat saat sakit iru, bermalam-malam kau kurang tidur hanya untuk memastikan bahwa demamku sudah turun.
Ibu…dirimu selalu ada untukku, menemaniku belajar padahal saat itu engkau baru pulang kerja, capek, ngantuk (jika dinas malem), tapi tak pernah sekalipun keluhanmu kudengarkan. Ibu…masih kuingat betapa gigih usahamu mengajariku pembagian… hehehehe seminggu yang sangat mencekam…yah maafkan aku ibu yang tidak pintar dan bodoh. Atau kuingat dirimu yang mengambil cuti hanya karena aku ebtanas. Ibu…tak terkira perjuanganmu membesarkanku.
Ibu…seringkali aku menyakitimu. ..tidak mau makan masakan yang telah engkau masak, membantah ucapanmu (sampai engkau menyebutku tukang jawab), atau sengaja ngelayap sehabis pulang kuliah (dan menjawab…” ibu sari tuh ga sengaja mau jalan ke mall, tapi emang bis nya berhenti di depan mall, ya udah sekalian ngadem dulu bu baru naik angkot pulang ke rumah”…) atau malas banget kalau disuruh masak (sambil menggerutu dalam hati kenapa sih repot-repot masak kan bisa beli, praktis dan ga capek dan engkau bilang “yang namanya anak gadis itu perlu belajar masak ntar kalau nikah masak buat suamimu”, dan aku menjawab “nanti sari cari suami yang kaya bu, jadi punya pembantu terus ga repot masak deh”, engkau hanya menggeleng-gelengka n kepala), atau meneriakiku jika jam 7 belum bangun (yang ini maaf bu, tapi bobo habis subuh emang paling enak deh),
Ibu…aku ingat bagaimana engkau tertawa geli saat proyek masak sayur sop ku yang pertama gagal karena ga bisa membedakan ketumbar dan merica, atau bingung disuruh membersihkan cumi, salah membedakan ikan mas dan ikan nila, menggosongkan tempe, dan banyak kejadian sesudahnya yang membuat emosi jiwa. Tapi engkau tidak marah, tidak kecewa, hanya berkata “yah mbak ibu doain mudah-mudahan kerjamu enak, gajimu gede, suamimu kerjanya mapan, jadi kamu ga usah repot-repot masak didapur, kamu emang ga bakat didapur”, ucapmu pasrah… Ibuku sayang siapa menduga doa yang kau ucapkan ketika itu menjadi kenyataan, siapa menduga doa yang kau ucapkan karena setengah menyerah mengajariku masak kini kurasakan kebenarannya meski aku memilih untuk tidak memiliki pembantu. Ibu…tak terkira untaian rasa sayangmu padaku sehingga marahmu pun jadi doa bagiku…
Ibu…masih kuingat tatapanmu saat aku bilang …”bu sari pengen ambil S2boleh ga” engkau hanya menjawab “mahal ga mbak, kalo ga mahal Insya Allah ibu sanggup”, atau saat kubilang “bu, kalau sari minta beliin laptop boleh ga, yang murah aja bu” atau “bu, jurusan ngadain study tour, sari boleh ikut ga”. Ibu sampai saat ini yang bisa kulakukan hanya meminta-meminta dan meminta, dan apa yangmampu kuberikan padamu bahkan tak sampai sebesar biji zarrah. Maafkan aku ibu…aku berjanji akan lebih banyak memberi daripada meminta.
Ibu…masih kuingat tatapan banggamu mendampingiku menghadiri upacara kelulusan dan wisuda, Cumlaude hanya itu yang mampu kupersembahkan untuk mengukir senyum disudut bibirmu.
Ibu…masih kuingat betapa engkau dan bapak setiap malam mendoakan agar aku bisa diterima di lembaga ini…dan kulihat betapa bangganya dirimu dan bapak saat aku diumumkan lulus diterima, Ibu tahukan engkau, tak mungkin aku disini tanpa doamu disetiap langkahku… .
Ibu…masih kuingat telpon-telponku ditengah malam buta, jam 2 dini hari, atau setengah tiga pagi, hanya untuk curhat mengenai masalah pemeriksaan. ..padahal besok pagi engkau mesti kerja (padahal setelah kurenungkan, ibu juga ga ngerti banget masalah pemeriksaan, kan ibu perawat bukan auditor, hehehehe) tapi kau dengarkan setiap keluh kesahku tanpa merasa marah karena telponku mengganggu tidurmu. Ibu…betapa sayangnya dirimu padaku…
Ibu…satu hal yang sangat aku syukurin dan juga kusesali dalam hidupku adalah tekadmu mengkursuskanku bahasa inggris saat usiaku 7 Tahun. Menurut pemikiran sederhanamu yang hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Perawat Kesehatan, jika seorang anak untuk bisa berbahasa ibunya dengan lancar saja paling tidak butuh waktu 2 tahun apalagi untuk belajar bahasa asing. Karena kegigihanmu mengkursuskan aku saat itu, meskipun tidak sedikit dari saudaramu yang mencibir dengan alasan “anak kecil dah dibebanin macem-macem, anak kecil yah biarin aja main memang masanya”, aku tidak pernah kesulitan dalam pelajaran bahasa inggris sejak SMP, SMA, bahkan sampai aku mengenyam bangku pascasarjana. Namun yang kusesali tak kudengarkan nasihatmu untuk menyelesaikan kursusku sampai selesai jangan setengah-setengah. Andai kudengarkan nasihatmu, andai kuikutin anjuranmu, mungkin saat ini kemampuan Bahasa Inggrisku tentunya lebih baik.
Ibu…bahkan sampai saat menikah pun aku masih menyusahkanmu, engkau lah yang kesana kemari mengurus semua keperluan pernikahanku, gedung, katering, tenda dan kursi, pelaminan, penata rias, dan semua-semuanya. …sedangkan aku datang saat acara sudah siap….maafkan aku ibu…hanya itu yang bisa kuucapkan..
Ibu…dulu tak kumengerti mengapa engkau mau repot bangun pagi membuatkanku teh manis ataupun susu coklat (dan aku bangun tidur jam setengah delapan, minum susu dan langsung bertengger depan tivi nonton doraemon), ataupun memasak. KIni setelah menikah aku mengerti, engkau bangun pagi menyiapkan aku minuman dan sarapan agar aku tidak sakit karena kelaparan, dan kini aku mengerti kenapa engkau sedih saat aku tidak mau makan masakanmu, karena masakan itu kau buat dengan penuh cinta kasih, doa dan harapan agar aku sehat karenanya, (karena setelah menikah aku mengerti betapa sedihnya jika makanan yang telah dibuat susah payah di pagi buta ga dimakan).
Ibu…rindu aku akan dirimu…rindu saat engkau memarahiku, karena kutahu karena cinta engkau memarahiku, rindu pelukan hangatmu dan berkata “mbak pengen dimasakin apa hari ini” (aku pasti menjawab..”dendeng balado” dan engkau pasti memasakkannya meskipun ribet karena dimasak beberapa tahap, tapi engkau tidak mengeluh”… atau “yang mana yang sakit sini ibu pijitin”…padahal engkau lelah dengan semua aktivitasmu. ..
Ibu…tak cukup kata melukiskan rasa sayangku padamu…tak cukup pengabdianku padamu selama ini…
Ibu…maafkan aku untuk semua kesalahanku padamu, untuk kata-kata yang mungkin menoreh luka di ujung hatimu, sikap yang mungkin mengalirkan air matamu dan tingkah laku yang mungkin membuatmu mengurut dada. Ibu kuingin engkau tahu aku tak pernah bermaksud melukai hatimu, tak bermaksud membuatmu menangis, tak pernah bermaksud membuatmu marah dan jengkel.
Ibu…kuingin engkau tahu betapa sayangnya aku padamu, betapa kacau dan bingungnya aku jika melihatmu bersedih, yang kuinginkan hanya agar sudut bibirmu semakin lebar karena tersenyum dan tertawa…kuingin kau bangga padaku.
Ibu…kusayang dirimu…
Nurul
Dear Mbak Rahma…………..
Agak kaget juga ya tulisan saya bisa muncul di blog nya mbak. Alangkah baiknya apabila besok dan seterusnya ada izin secara pribadi kepada penulis.
Maaf apabila tidak berkenan, tetapi saya rasa begitulah etika jurnalistik.
Salam
Nurul