Jumat, 13 Maret, 2009 00:32
Dari:
“yan_ku” <yayan_unj@yahoo.com>
Apa
yang akan kau lakukan apabila matahari tak kunjung terang di pagi hari,
Tak ada lagi kisah pagi. Semuanya berkisah tentang Malam dan gelap.
Menjajar lampu di sepanjang jalan. Tak sebanyak manusia yang saat ini
masih diberi nikmat terang di siang hari. Bertebaran mencari rizki-Nya.
Namun banyak yang tak sadar bahwa mereka masih diberi Nikmat-Nya.
Bayangkanlah
apabila mulai saat ini semua hari adalah malam. Pembaca berita selalu
memberikan greetings kepada pemirsa dengan selalu berkata, “Selamat
Malam Pemirsa” tanpa ada lagi kata dikamus-kamus bahasa, “Selamat Pagi
atau Selamat Siang atau tertulis Pagi yang cerah benderang”. Semuanya
bercerita tentang malam.
Semuanya mungkin saja terjadi,
“kun fayakun”. Apabila subtansi siang dan malam saat ini yang dirasakan
tak dimaknai oleh sebahagiaan besar penduduk bumi. Lupa dengan
firmannya yang begitu jelas tertulis di Al Quran, ““Dan dia (pula) yang
menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin
mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Al Furqan: 62).”
Aku
mencoba memaknai arti siang. Yang banyak dilupakan penduduk bumi.
Dengan masuk kedalam gua ditengah hutan rimba. Masuk sedalam-dalamnya.
Hanya sebuah lilin dan sebatang korek api ditangan. Semakin gelap dan
gelap hingga cahaya sirna. Kusandarkan tubuh pada sebuah dinding yang
setidaknya rata walau masih bergerigi. Sekarang senyap. Lilin
kunyalakan. Dan hanya bertahan beberapa jam saja. Kini gulita telah
gelap. Satu jam, dua jam, tiga jam…hingga rasa nyaman telah berganti
dengan kekhawatiran. Gelap telah menguasaiku. Dan pertanyaan demi
pertanyaan muncul. Apakah gelap akan selalu menemaniku. Berpikir
sekarang gelap dan besok akan gelap lagi. Ah, betapa sempurnanya hidup
diluar sana. Malam dan Siang di silih bergantikan. Saat ini telah
kuambil pelajaran dan makna bersyukur atas bumi yang terpijak telah
disilih bergantikan malam dan siang.
Tubuh bergejolak
didalam gua gelap. Akhirnya tak tahan. Meronta dan sekejap berlari
sekencang mungkin terseok. Tersandung, jatuh, berdarah. Mencari jalan
ke titik terang. Keluar dari gua. Dan tertelungkup segera bersujud
seraya berkata. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Tak ada kata lain mulai
hari ini selain bersyukur ketika malam tiba dan siang menjelang. Karena
disana ada tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Fabi ayyi
a’la I’robbikumaa tukadzibaan, Fabi ayyi a’la I’robbikumaa tukadzibaan,
“Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”, “Nikmat Tuhan yang
manakah yang kamu dustakan?”. Jangan tunggu esok…jangan tunggu esok, hari ini juga mari kita selalu menjadi hamba yang selalu beryukur…. http://ya2nya2n. multiply. com
http://tombolpulsa. com
———— ——— ——— ——-
Yayan Supardjo
Makasih sudah di share di blognya, Semoga bermanfaat